Geruduk Kantor Imigrasi, Aktivis Bongkar Dugaan Permainan KITAS WNA Rusia: “Siapa yang Melindungi Mereka?”

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 22:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mata Aktual News – Gelombang protes kembali mengguncang Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non-TPI Jakarta Selatan di kawasan Kuningan, Senin (15/6/2026).

Sejumlah aktivis masyarakat mendatangi kantor tersebut untuk menuntut kejelasan atas laporan dugaan penyalahgunaan izin tinggal (KITAS) oleh dua warga negara asing (WNA) asal Rusia yang dilaporkan sejak 2022 namun hingga kini belum menunjukkan titik terang.

Dengan suara lantang, massa mempertanyakan keseriusan aparat dalam menindaklanjuti laporan terhadap Stanislav Sadovnikov dan Igor Maksimov. Mereka menilai proses penanganan kasus terkesan berjalan di tempat dan jauh dari prinsip transparansi serta keadilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami tidak datang membawa fitnah. Kami datang membawa dokumen, bukti, laporan, dan fakta. Tapi selama bertahun-tahun yang kami terima hanya alasan, penundaan, dan birokrasi yang berbelit-belit,” tegas Koordinator Aksi, Ade, dalam orasinya.

Menurut Ade, pihaknya telah tiga kali memenuhi undangan dan memberikan keterangan kepada pihak terkait. Namun hingga saat ini belum ada kepastian hukum maupun penjelasan yang memuaskan terkait perkembangan laporan tersebut.

“Pertanyaan kami sederhana, kenapa laporan yang sudah masuk sejak tahun 2022 belum juga dituntaskan? Ada apa sebenarnya?” ujar Ade di hadapan massa.

Aksi tersebut semakin panas ketika massa menyinggung mencuatnya dugaan praktik korupsi dalam pengurusan izin tinggal WNA yang belakangan menjadi sorotan publik.

Mereka mempertanyakan apakah lambannya penanganan laporan tersebut berkaitan dengan dugaan adanya permainan oknum di lingkungan Imigrasi.

“Apakah ada pihak yang sengaja melindungi dua WNA Rusia yang kami laporkan? Siapa yang menjadi penghubung dan pelobi mereka? Apakah ada kekuatan tertentu yang membuat hukum seolah kehilangan taring ketika berhadapan dengan pihak tertentu?” kata Ade.

Dalam aksinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan keras. Mereka mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan korupsi dan permainan izin tinggal WNA hingga ke akar-akarnya, termasuk menelusuri kemungkinan keterlibatan oknum pejabat maupun broker yang selama ini diduga bermain di balik layar.

Massa juga meminta seluruh proses penanganan laporan yang telah berjalan sejak 2022 dibuka secara transparan kepada publik. Menurut mereka, masyarakat berhak mengetahui alasan mengapa laporan tersebut belum kunjung mendapatkan kepastian hukum.

Selain itu, para demonstran menuntut agar tidak ada lagi perlindungan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat serta mendesak aparat mengungkap siapa saja yang selama ini diduga menjadi fasilitator, pelindung, atau penghubung kepentingan pihak yang dilaporkan.

“Bila hukum terus mandul terhadap mereka yang memiliki akses dan kekuasaan, maka kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum akan semakin runtuh. Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran dibuka seterang-terangnya,” tegas Ade.

Usai berorasi, perwakilan massa diterima untuk berdialog dengan pihak Imigrasi. Namun mereka memberikan ultimatum tegas.

“Kami beri waktu tujuh hari. Jika tidak ada langkah nyata sesuai hasil pertemuan hari ini, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar. Perjuangan ini belum selesai,” pungkas Ade.

Aksi tersebut menjadi sorotan karena kembali mengangkat pertanyaan lama yang hingga kini belum terjawab: mengapa laporan yang telah bergulir selama empat tahun belum juga berujung pada kepastian hukum, dan apakah ada pihak yang sengaja bermain di balik layar?

Reporter: Piye
Editor: Redaksi

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Taman Kok Jadi Bisnis BUMD? KPKB Sentil Distamhut: Dasar Hukumnya Mana?
Konfirmasi Harus Bersurat, Aktivis Pertanyakan Keterbukaan Informasi Distamhut DKI
KWJK Soroti Akurasi Data Desil: Jangan Sampai Data Salah, Hak Warga Hilang
PTSL Bojonggede 2019 Diusut, 50 Orang Diperiksa! Pejabat BPN Ikut Dimintai Keterangan
Pemdes Kramat Disorot, Keluarga Anak Disabilitas Mengaku Minim Perhatian dan Akses Bansos
Jangan Biarkan Masker Kembali Jadi Beban di Tengah Ancaman Abu Vulkanik
Pelayanan Kelurahan Tegal Alur Dikeluhkan Warga, Lurah Sulit Dikonfirmasi
PKH Bonisari Bikin Heboh! Kartu ATM Warga Dipegang Orang Lain, Dugaan Pungutan Ikut Mencuat
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 10:58 WIB

Taman Kok Jadi Bisnis BUMD? KPKB Sentil Distamhut: Dasar Hukumnya Mana?

Jumat, 11 September 2026 - 09:15 WIB

Konfirmasi Harus Bersurat, Aktivis Pertanyakan Keterbukaan Informasi Distamhut DKI

Kamis, 10 September 2026 - 13:34 WIB

KWJK Soroti Akurasi Data Desil: Jangan Sampai Data Salah, Hak Warga Hilang

Kamis, 10 September 2026 - 07:36 WIB

PTSL Bojonggede 2019 Diusut, 50 Orang Diperiksa! Pejabat BPN Ikut Dimintai Keterangan

Selasa, 8 September 2026 - 15:14 WIB

Pemdes Kramat Disorot, Keluarga Anak Disabilitas Mengaku Minim Perhatian dan Akses Bansos

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights