Blokir 31 Juta Rekening Dormant Tuai Kritik, Pengamat: Kebijakan PPATK Tergesa dan Tak Pro Rakyat Kecil!

- Jurnalis

Kamis, 31 Juli 2025 - 19:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Mata Aktual News– Kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang tiba-tiba memblokir 31 juta rekening pasif alias dormant menuai sorotan tajam. Pasalnya, jutaan di antaranya milik rakyat kecil penerima bantuan sosial (bansos) yang tak tahu-menahu soal kejahatan keuangan.

“Tujuannya bagus, katanya buat cegah pencucian uang. Tapi caranya sembrono, rakyat kecil malah jadi korban,” tegas Agung Nugroho, pengamat kebijakan sosial dari Jakarta Institut, Rabu (31/7/2025).

Dari total rekening yang diblokir, sekitar 10 juta adalah rekening penerima bansos yang tak aktif selama lebih dari tiga tahun. Dana yang mengendap pun tak main-main: Rp 2,1 triliun!. Belum lagi 140 ribu rekening lebih yang sudah tidur selama lebih dari 10 tahun, plus ribuan lainnya yang disebut-sebut terlibat jual-beli rekening dan judi daring.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Agung menyebut PPATK gegabah. “Pemblokiran ini tidak sesuai aturan main. Harusnya mengacu pada Pasal 40 UU Nomor 8 Tahun 2010. Kalau tidak ada indikasi pidana, kenapa diblokir?”

Ia menambahkan, ini bukan sekadar persoalan hukum, tapi juga soal rasa keadilan bagi rakyat kecil. Apalagi, tak ada pemberitahuan yang layak sebelumnya. Banyak nasabah kaget saat tahu ATM mereka tak bisa dipakai.

“Rakyat disuruh melek teknologi, tapi bank dan regulator malah gagal kasih info dasar. Masa rekening dibekukan diam-diam? Kacau ini,” kata Agung geram.

Meski begitu, Agung memberi apresiasi pada langkah cepat Presiden Prabowo Subianto yang langsung turun tangan. Presiden memanggil Kepala PPATK dan Gubernur BI ke Istana pada Senin (29/7/2025), minta kebijakan ini dievaluasi total.

“Langkah Presiden patut diapresiasi. Beliau sigap, tanggap, dan berpihak ke rakyat. Ini baru pemimpin!” tegasnya.

Menurut data terakhir, hampir 50 persen rekening yang sempat dibekukan sudah bisa diakses kembali usai proses verifikasi.

Agung mengingatkan, ke depan pemerintah dan lembaga keuangan jangan lagi asal gebuk. Harus pakai pendekatan berbasis risiko, bukan main rata. Ia juga mendesak dibuatnya sistem peringatan otomatis dan edukasi publik secara luas sebelum langkah-langkah ekstrem seperti ini diterapkan.

“Bersihkan sistem keuangan, ya. Tapi jangan sampai rakyat yang sudah susah makin disusahkan,” tutupnya.

Laporan: Syahrudin Akbar
Editor: Merry WM

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dishub DKI Jakarta Fokus Benahi Tata Kelola dan Tertibkan Parkir Liar, Tegaskan Tak Ada kenaikan Tarif Parkir
Dishub DKI Jakarta Resmi Luncurkan Call Center 1500813 di HBKB, Warga Diajak Hadir
Diskusi Desil dan Layanan JakEvo, Warga RW 001 Jatinegara Diberi Edukasi Soal Bansos dan Pelayanan Publik
Maggot dan Bank Sampah Jadi Andalan Pejaten Barat Kurangi Timbunan Sampah
Infast Bestari: Perlindungan Sosial Harus Universal, Kelas Menengah Tak Boleh Lagi Terabaikan
BPS Genjot Akurasi Sensus Ekonomi 2026, 88 Petugas Tajurhalang Diminta Jaga Integritas Data
Tak Ada Lagi Paspor Biasa! Imigrasi Bogor Pastikan Pemohon Baru Kini Wajib Gunakan e-Paspor
Korupsi Triliunan Terungkap, Rakyat Kian Terjepit! KPKB Desak Pemerintah Perluas Bansos
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 15:56 WIB

Dishub DKI Jakarta Fokus Benahi Tata Kelola dan Tertibkan Parkir Liar, Tegaskan Tak Ada kenaikan Tarif Parkir

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:55 WIB

Dishub DKI Jakarta Resmi Luncurkan Call Center 1500813 di HBKB, Warga Diajak Hadir

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:51 WIB

Diskusi Desil dan Layanan JakEvo, Warga RW 001 Jatinegara Diberi Edukasi Soal Bansos dan Pelayanan Publik

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:43 WIB

Maggot dan Bank Sampah Jadi Andalan Pejaten Barat Kurangi Timbunan Sampah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:28 WIB

Infast Bestari: Perlindungan Sosial Harus Universal, Kelas Menengah Tak Boleh Lagi Terabaikan

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights