PURWOKERTO, Mata Aktual News— Di tengah riuhnya pemberitaan dan isu yang mengemuka terkait dugaan praktik “jual kursi” mahasiswa di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), terdapat kisah lain yang tak kalah menarik untuk disorot. Sebuah cerita tentang perjuangan, kemandirian, pendidikan dan kecintaan terhadap budaya.
Kisah itu datang dari Selviany Dwi Putri, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed yang mampu menjalani dua dunia sekaligus: menuntaskan pendidikan hukum dan tetap menekuni seni tari Lengger di Sanggar Seni Panginyongan.
Di saat sebagian mahasiswa sibuk mengejar ruang kelas, buku, penelitian dan tugas akhir, Selviany Dwi Putri juga harus membagi waktunya dengan dunia panggung. Ia berlatih menari, mempelajari gerak, mengikuti irama gamelan dan tampil sebagai bagian dari upaya menjaga kesenian tradisional Banyumas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Selviany Dwi Putri dua dunia itu bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Hukum mengajarinya berpikir. Seni mengajarinya merasa.
Keduanya justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.
Ketika Buku Hukum Bertemu Irama Gamelan
Menjadi mahasiswa hukum bukan perjalanan yang ringan. Ada tumpukan tugas, penelitian, ujian, hingga perjuangan menyelesaikan pendidikan.
Namun di sela kesibukan akademiknya, Selviany Dwi Putri tetap memilih mempertahankan kecintaannya terhadap Lengger.
Tidak mudah menjalankan dua peran dalam waktu bersamaan.
Ketika teman-temannya mungkin tengah beristirahat, ia bisa saja masih berada di sanggar. Ketika tugas akademik menunggu untuk diselesaikan, latihan tari juga menuntut konsentrasi dan kedisiplinan.
Tetapi Selviany Dwi Putri memilih menjalaninya.
Bukan karena semuanya mudah, melainkan karena keduanya sama-sama berarti.
Menari bagi Selviany Dwi Putri bukan sekadar hobi. Ada sesuatu yang lebih dalam ketika tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama.
Ada rasa.
Ada kebanggaan.
Ada ikatan dengan tradisi.
Dan ada panggilan jiwa untuk ikut menjaga kebudayaan yang menjadi identitas masyarakat Banyumas.
Dari Sanggar Menuju Toga
Perjalanan Selviany Dwi Putri akhirnya sampai pada sebuah momentum penting.
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman menggelar Pelepasan Wisudawan Fakultas Hukum Unsoed di Aula Gedung Justitia 3, Fakultas Hukum Unsoed, Purwokerto.Selasa (8/9/2026).
Bagi para wisudawan, pelepasan bukan sekadar acara seremonial. Di balik toga yang akan dikenakan, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan menempuh pendidikan, menyelesaikan penelitian, menghadapi berbagai tantangan akademik, hingga akhirnya mencapai garis akhir pendidikan.
Dekan Fakultas Hukum Unsoed, Prof. Dr. Rini Ardhaniariswari, S.H., M.H., menekankan pentingnya lulusan membawa ilmu, integritas dan semangat keadilan agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna ketika melihat perjalanan Selviany Dwi Putri.
Sebab, pendidikan baginya bukan sekadar tentang mendapatkan gelar.
Pendidikan adalah bekal untuk menjalani kehidupan.
Tidak Memilih Antara Hukum dan Budaya
Selviany Dwi Putri ingin membuktikan bahwa seorang mahasiswa tidak harus kehilangan jati dirinya ketika memasuki dunia akademik.
Ia bisa mempelajari hukum tanpa meninggalkan budaya.
Ia bisa mengejar gelar sarjana tanpa melupakan panggung seni.
Ia bisa membaca buku hukum pada siang hari dan menari Lengger ketika panggung memanggil.
Dua dunia. Dua karakter. Tetapi satu semangat perjuangan.
Kemandirian menjadi bagian penting dalam perjalanan Selviany Dwi Putri. Ia berusaha menjalani prosesnya sendiri, menghadapi lelah, mengatur waktu, bertahan dalam tekanan dan terus berjalan hingga mencapai titik yang selama ini diperjuangkan.
Kini, toga berada di depan mata.
Namun panggung Lengger tidak ditinggalkan.
Justru ada harapan bahwa ilmu hukum yang diperolehnya dapat berjalan beriringan dengan kecintaannya terhadap kebudayaan.
Saat Sarjana Hukum Menjadi Penjaga Tradisi
Di tengah derasnya perubahan zaman, kisah Ani menjadi pengingat bahwa modernitas tidak harus membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya.
Seorang sarjana hukum tetap bisa menjadi pelaku seni.
Seorang intelektual tetap bisa mencintai tradisi.
Seorang anak muda tetap bisa mengejar masa depan sembari menjaga warisan leluhur.
Selviany Dwi Putri tidak hanya sedang mengejar gelar sarjana. Ia sedang membangun identitas.
Identitas sebagai insan akademik yang memiliki akar budaya.
Dari ruang kuliah menuju panggung Lengger.
Dari buku-buku hukum menuju denting gamelan.
Dari perjuangan akademik menuju pengabdian.
Inilah kisah Selviany Dwi Putri bukan tentang memilih antara menjadi sarjana atau menjadi seniman, tetapi tentang keberanian menjalani keduanya.
Dan ketika kelak toga dikenakan, mungkin yang ikut naik ke atas panggung bukan hanya seorang sarjana hukum.
Tetapi seorang anak muda yang membawa ilmu, kemandirian dan budaya dalam satu langkah menuju masa depan.
Sebab pada akhirnya, gelar bisa menjadi tanda kelulusan, tetapi perjuanganlah yang menentukan nilai seseorang.
Dan baginya, perjalanan itu baru saja dimulai.
Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Redaksi








