DLH Jakarta Pusat Diduga Tutup Mata Pungli di TPS, Konfirmasi Media Terhambat

- Jurnalis

Senin, 29 Desember 2025 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA PUSAT | MataAktualNews — Suku Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Administrasi Jakarta Pusat diduga melakukan pembiaran terhadap praktik pungutan liar (pungli) yang dialami petugas gerobak swadaya di sejumlah Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) di wilayah Jakarta Pusat.

Dugaan pungli tersebut disebut-sebut dilakukan oleh oknum kru TPS dengan tarif yang bervariasi di setiap lokasi. Namun hingga kini, upaya konfirmasi yang dilakukan redaksi MataAktualNews kepada Kepala Suku Dinas DLH Jakarta Pusat belum mendapatkan tanggapan resmi.

Surat permohonan wawancara dan klarifikasi yang dikirimkan redaksi pada 11 Desember 2025 terkait dugaan pungli tersebut belum juga dibalas hingga Senin (29/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat wartawan kembali mendatangi kantor Suku Dinas DLH Jakarta Pusat untuk menanyakan tindak lanjut surat tersebut, awak media tidak diperkenankan masuk ke dalam kantor dan diminta menunggu di posko pengamanan luar.

Keterangan hanya disampaikan oleh Diah Kusuma Wati, Staf Penyelenggara Jasa Lingkungan (PJLP) Delegasi Suku Dinas DLH Jakarta Pusat, di posko pengamanan (Pamdal). Ia menyatakan bahwa surat permohonan konfirmasi masih dalam proses internal.

“Suratnya sudah sampai dan masih dalam proses karena kami tidak bisa mengambil keputusan sepihak. ASN tidak ada di kantor, dan ini melibatkan banyak wilayah, termasuk satuan pelaksana tugas (satpel), Kecamatan Kemayoran, dan Gambir,” ujar Dia Kusuma Wati.

Ia menambahkan, proses klarifikasi belum dapat diselesaikan lantaran kesibukan kegiatan lapangan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025, serta tidak adanya Aparatur Sipil Negara (ASN) di kantor pada hari ini.

Namun demikian, redaksi MataAktualNews.com menyoroti pernyataan tersebut. Pasalnya, dalam surat permohonan konfirmasi telah dicantumkan secara lengkap alamat redaksi, alamat email, serta nomor kontak redaksi dan wartawan.

Pimpinan Redaksi Mata Aktual News, Merry Witrayeni Mursal, menegaskan bahwa alasan ketiadaan ASN pada hari kerja tidak dapat dibenarkan dan mencerminkan lemahnya komitmen pelayanan publik.

“Hari ini masih merupakan hari kerja. Jika benar tidak ada ASN yang berada di kantor, hal tersebut patut dipertanyakan dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menghindari klarifikasi kepada media. Kalaupun ada ASN yang cuti, seharusnya masih ada pejabat atau petugas berwenang lain yang dapat memberikan penjelasan resmi,” tegas Merry.

Ia menambahkan, sikap tertutup terhadap permintaan konfirmasi justru memperkuat dugaan adanya pembiaran praktik pungutan liar di lapangan, sekaligus menunjukkan minimnya transparansi lembaga publik dalam merespons pengaduan masyarakat dan pertanyaan pers.

“Media bekerja berdasarkan undang-undang. Ketika ruang konfirmasi dihambat, ini bukan hanya soal pemberitaan, tetapi juga menyangkut akuntabilitas dan tanggung jawab moral lembaga publik kepada masyarakat,” lanjutnya.

Merry menegaskan bahwa Mata Aktual News tetap mengedepankan prinsip praduga tak bersalah, namun menuntut keterbukaan informasi sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang baik.

Meski demikian, pihak Suku Dinas DLH Jakarta Pusat kembali meminta kontak wartawan, sehingga memunculkan dugaan bahwa surat permohonan konfirmasi tersebut belum dibaca secara menyeluruh.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi MataAktualNews.com masih membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat serta pihak terkait lainnya, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Reporter: Syahrudin / Ryan
Editor: Redaktur

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Maggot dan Bank Sampah Jadi Andalan Pejaten Barat Kurangi Timbunan Sampah
Infast Bestari: Perlindungan Sosial Harus Universal, Kelas Menengah Tak Boleh Lagi Terabaikan
BPS Genjot Akurasi Sensus Ekonomi 2026, 88 Petugas Tajurhalang Diminta Jaga Integritas Data
Tak Ada Lagi Paspor Biasa! Imigrasi Bogor Pastikan Pemohon Baru Kini Wajib Gunakan e-Paspor
Korupsi Triliunan Terungkap, Rakyat Kian Terjepit! KPKB Desak Pemerintah Perluas Bansos
Gudang 2 Lantai di Kosambi Diduga Tak Sesuai PBG, Lurah dan Satpol PP Saling Lempar Kewenangan
Anggaran Rp4,2 Miliar untuk Alat Kantor DPMD Bogor Dipertanyakan, GPII: Desa Masih Banyak yang Butuh!
Truk Tanah Diduga Langgar Jam Operasional, Kecelakaan di Pakuhaji Kembali Jadi Sorotan
Berita ini 735 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:43 WIB

Maggot dan Bank Sampah Jadi Andalan Pejaten Barat Kurangi Timbunan Sampah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:28 WIB

Infast Bestari: Perlindungan Sosial Harus Universal, Kelas Menengah Tak Boleh Lagi Terabaikan

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:44 WIB

BPS Genjot Akurasi Sensus Ekonomi 2026, 88 Petugas Tajurhalang Diminta Jaga Integritas Data

Selasa, 14 Juli 2026 - 20:12 WIB

Tak Ada Lagi Paspor Biasa! Imigrasi Bogor Pastikan Pemohon Baru Kini Wajib Gunakan e-Paspor

Minggu, 12 Juli 2026 - 20:10 WIB

Korupsi Triliunan Terungkap, Rakyat Kian Terjepit! KPKB Desak Pemerintah Perluas Bansos

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights