Ribuan Karyawan Puncak Terancam PHK, Kebijakan Menteri Hanif Faisol Jadi Sorotan

- Jurnalis

Rabu, 10 September 2025 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOGOR | Mata Aktual News – Kebijakan penertiban bangunan usaha di kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, yang dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menuai sorotan tajam. Ribuan karyawan hotel, vila, hingga restoran terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah usaha mereka disegel karena berada di lahan kerja sama operasional (KSO) dengan PTPN.

Pantauan Mata Aktual News, sejumlah baliho kritik terpampang di sepanjang jalur Puncak sejak Senin malam (8/9/2025). Salah satu baliho bertuliskan: “PHK Massal di Puncak, Korban Kebijakan Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.”

Tidak hanya baliho, aksi unjuk rasa juga sempat digelar pada akhir Agustus lalu. Warga dan pekerja sektor wisata menolak penyegelan dan pembongkaran usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut data Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS), sedikitnya 2.000 karyawan terancam kehilangan pekerjaan akibat kebijakan tersebut.

“Hotel dan restoran yang disegel otomatis berhenti beroperasi. Kami yang bekerja di sini jadi korban, tanpa kepastian nasib ke depan,” ungkap Andi, seorang karyawan restoran di kawasan Cisarua, Selasa (9/9/2025).

Dampak Sosial-Ekonomi Jadi Kekhawatiran

Masyarakat menilai langkah KLHK terlalu keras dan tidak mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi. Mereka bahkan meminta Presiden Prabowo Subianto turun tangan mengevaluasi kebijakan yang dinilai “mengorbankan rakyat kecil.”

Sementara itu, KLHK beralasan penertiban dilakukan untuk menegakkan aturan lingkungan hidup. Sebanyak 33 unit usaha disebut melanggar ketentuan dan diwajibkan melakukan pembongkaran mandiri sebelum akhir Agustus 2025.

Namun, hingga kini belum ada solusi konkret bagi ribuan pekerja terdampak. Situasi di kawasan Puncak masih diwarnai ketegangan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.

Reporter: M Rojay
Editor: Merry WM

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JATA: Eksploitasi Air Tanah di Jakarta Picu Kerusakan Masif
UP PMPTSP Jatinegara, Kelurahan Jatinegara Perkuat Sinergi Penataan Fasum
Surat Edaran Bupati Tangerang Dilanggar, Truk Tanah Proyek BBI Pondok Kelor Masih Melenggang
PTSP Setiabudi Gelar Sosialisasi Layanan Jasa Desain Gambar Teknik Perizinan dan Non-Perizinan Gratis
Sambut Dandim Baru, Rudy: Bangun Bogor Tak Bisa Sendiri
Kepercayaan Warga Menipis, FOMPPA Soroti Kondisi Jalan Rusak di Pakuhaji
Kelurahan Tangki Gelar Rapat Koordinasi Bahas Anak Putus Sekolah
Pemerintah dan PIK 2 Kolaborasi Stop Buang Air Besar Sembarangan
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 05:13 WIB

JATA: Eksploitasi Air Tanah di Jakarta Picu Kerusakan Masif

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:51 WIB

UP PMPTSP Jatinegara, Kelurahan Jatinegara Perkuat Sinergi Penataan Fasum

Rabu, 25 Februari 2026 - 02:17 WIB

Surat Edaran Bupati Tangerang Dilanggar, Truk Tanah Proyek BBI Pondok Kelor Masih Melenggang

Selasa, 24 Februari 2026 - 21:21 WIB

PTSP Setiabudi Gelar Sosialisasi Layanan Jasa Desain Gambar Teknik Perizinan dan Non-Perizinan Gratis

Selasa, 24 Februari 2026 - 00:58 WIB

Sambut Dandim Baru, Rudy: Bangun Bogor Tak Bisa Sendiri

Berita Terbaru

P0LRI

Kapolres Tangerang Kota Rangkul Media, Santuni Anak Yatim

Kamis, 26 Feb 2026 - 20:06 WIB

Pemerintahan

JATA: Eksploitasi Air Tanah di Jakarta Picu Kerusakan Masif

Kamis, 26 Feb 2026 - 05:13 WIB

Verified by MonsterInsights