Mata Aktual News– Medan Tebingtinggi
Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh komentar akun Facebook yang diduga milik Wali Kota Tebingtinggi. Komentar tersebut menuai kritik warganet lantaran dinilai tidak mencerminkan etika komunikasi seorang pejabat publik.

Peristiwa bermula dari unggahan bertuliskan “Lagi musim RDP” yang diunggah akun Ridwan Han’s. Unggahan bernada santai itu awalnya tidak memantik polemik. Namun suasana berubah ketika akun bernama Irdian Saragih nama yang dikenal publik sebagai Wali Kota Tebingtinggi ikut nimbrung dengan komentar yang menyinggung penggunaan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).
Percakapan yang semula terkesan bercanda itu kemudian berbuntut panjang. Tangkapan layar kolom komentar beredar luas dan memicu reaksi keras warganet. Sorotan pun bergeser, bukan lagi soal candaan, melainkan soal kepantasan bahasa dan sikap seorang kepala daerah di ruang publik digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau benar ini akun Wali Kota, bahasanya kurang pantas. Pejabat publik harusnya lebih bijak,” tulis seorang warganet. Kritik senada membanjiri kolom komentar unggahan ulang tersebut.

Isu ini mencuat di tengah memanasnya agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kota Tebingtinggi yang belakangan gencar mengulas sejumlah persoalan kebijakan dan pengelolaan pemerintahan daerah.
Pemerintah Kota Tebingtinggi akhirnya angkat bicara. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Tebingtinggi, Ghazali Rahman, S.Sos., MSP, menyatakan pihaknya masih menelusuri keabsahan dan pengelolaan akun media sosial tersebut.
“Kami masih melakukan penelusuran. Setahu kami, itu akun yang selama ini dikenal sebagai akun resmi Bapak Wali Kota,” ujar Ghazali kepada Mata Aktual News. Selasa (13/1/2026) melalui pesan singkat.
Ia menegaskan, Pemkot Tebingtinggi berkepentingan menjaga situasi tetap kondusif di tengah berkembangnya opini publik. “Kami berharap suasana tetap kondusif,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, perbincangan di media sosial masih terus bergulir. Kasus ini kembali mengingatkan bahwa di era digital, setiap kata pejabat publik di ruang maya bisa menjadi konsumsi publik dan berdampak luas, sehingga kehati-hatian dan etika komunikasi menjadi keharusan, bukan pilihan.
Reporter: AMan
Editor: Redaktur







