Edisi: Cerpen | Enriko A Gultom
Editor: Merry WM
Mata Aktual News. Jakarta, dini hari. Kota masih belum sepenuhnya bangun. Tapi di sebuah kamar sempit berisi tumpukan kertas, kamera tua, dan laptop penuh coretan, Enriko menatap layar dengan mata sembab. Satu berita lagi harus tayang sebelum matahari muncul. Kopi dingin di sampingnya jadi saksi betapa hidup sebagai jurnalis bukan sekadar soal menulis—tapi bertahan.
Enriko baru memulai di dunia jurnalistik. Dengan semangat membara, ia melamar di “Mata Aktual News” Salah satu media yang sedang berkembang. Ia datang bukan dengan ijazah jurnalistik, melainkan tekad: “Saya ingin membela kebenaran.” Kalimat itulah yang membuat Pemimpin Redaksi saat itu, Ibu Merry, menatapnya lebih lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Oke, kita lihat seberapa kuat kamu menulis dalam badai,” ucapnya waktu itu.
Hari-hari awal terasa manis. Setiap liputan terasa seperti petualangan. Ia mewawancarai pedagang kaki lima yang digusur, memotret wajah-wajah kecewa buruh saat upah tak dibayar, hingga ikut menyusup ke ruang sidang kasus korupsi demi satu kutipan penting. Nama Enriko mulai dikenal. Artikel-artikelnya sering viral karena keberanian dan ketajaman tulisannya.
Tapi manis itu tak bertahan lama.
Ketika ia menulis tentang sebuah proyek mangkrak milik pejabat daerah, ancaman mulai datang. Awalnya hanya teror telepon. Lalu motornya dirusak. Hingga suatu malam, ia dikejar oleh dua pria bertopeng usai menghadiri diskusi pers. Polisi pun acuh, seolah diam adalah bagian dari sistem.
Enriko goyah. Ibunya sempat memintanya berhenti. “Nak, apa hidupmu seharga berita?” Tapi Enriko hanya tersenyum, walau hatinya gemetar.
“Bu, kalau semua diam, siapa yang bersuara?”
Pahitnya hidup jurnalis juga muncul dalam bentuk lain—gaji yang terlambat, rekan yang saling sikut demi naik posisi, hingga tekanan redaksi yang terkadang tunduk pada iklan. Ia pernah diminta “melembutkan” berita tentang perusahaan besar yang menjadi sponsor. Ia menolak. Akibatnya, bonus akhir tahun dicoret. Tapi hatinya lega—integritas tak ternilai.
Namun di balik semua pahit, Enriko menemukan kemanisan yang lebih dalam. Ketika seorang ibu menangis dan memeluknya karena berita Enriko membantu anaknya mendapat pengobatan gratis. Ketika seorang pejabat mundur setelah skandal yang ia ungkap. Ketika mahasiswa datang padanya dan berkata,
“Mas Enriko, tulisanmu yang membuat saya ingin jadi jurnalis.”
Malam itu, saat berita terakhirnya tentang anak-anak korban banjir tayang, Enriko menutup laptop. Ia menatap jendela yang mulai membiru oleh cahaya pagi. Rasa lelah di tubuhnya tak hilang, tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang hangat.
Bukan kopi. Bukan pujian. Tapi keyakinan bahwa ia ada di jalan yang benar.
Di dunia yang sering kali dibungkam uang dan kekuasaan, menjadi jurnalis bukan hanya profesi—tapi perjuangan. Dan Enriko, dengan segala manis pahitnya, tetap menulis. Karena ia percaya, sekuat apapun kebohongan, kebenaran tetap layak diperjuangkan.







