JAKARTA, Mata Aktual News — Ribuan massa Aktivist Connection Muslimah Gerakan Pemuda Islam (GPI) turun ke jalan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan membawa pesan tegas: berantas korupsi, perangi narkoba, dan stop propaganda yang memecah belah anak bangsa.
Aksi damai tersebut digelar Selasa (18/8/2026), dengan diawali konsentrasi massa di kawasan seberang Kedutaan Besar Amerika Serikat, Gambir, Jakarta Pusat. Massa kemudian melakukan longmarch menuju Silang Selatan Monas sambil mengarak Bendera Merah Putih sepanjang 81 meter.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, massa mulai berdatangan sekitar pukul 13.30 WIB. Jumlah peserta terus bertambah dan pada sekitar pukul 16.00 WIB diperkirakan mencapai kurang lebih 1.000 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Massa membawa mobil komando, spanduk, Bendera Merah Putih, bendera aliansi serta berbagai atribut almamater perguruan tinggi.
Kirab tersebut juga berlangsung semarak dengan penampilan tim angklung, tarian Papua serta dua patung ondel-ondel yang ikut mengiringi perjalanan massa.
Tiga Tekad GPI untuk Indonesia
Tak sekadar memperingati hari kemerdekaan, peserta aksi membawa “Deklarasi Kemerdekaan Indonesia ke-81: Bangkit, Bersinar dan Berdaulat.”
Dalam deklarasi tersebut, terdapat tiga poin utama yang menjadi sikap massa.
Pertama, Indonesia bebas korupsi.
Massa menilai korupsi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus ancaman terhadap masa depan bangsa.

Karena itu, mereka menyerukan perang tanpa kompromi terhadap praktik korupsi, kolusi dan nepotisme serta mendorong terciptanya pemerintahan yang transparan, adil dan berintegritas.
Kedua, perang terhadap narkoba.
Narkoba dinilai menjadi salah satu ancaman serius bagi generasi bangsa. Massa mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum agar semakin serius membongkar jaringan peredaran narkotika.
Dalam deklarasinya, peserta menyuarakan tuntutan hukuman tegas terhadap bandar dan pengedar narkoba, termasuk tuntutan hukuman mati sebagaimana tercantum dalam pernyataan aksi.
Massa juga meminta agar oknum aparat yang terbukti terlibat ataupun melindungi jaringan narkoba ditindak tegas sesuai hukum.
Ketiga, stop propaganda antar-anak bangsa.
Peserta aksi menyerukan penghentian provokasi, adu domba, ujaran kebencian serta berbagai bentuk propaganda yang dinilai dapat memecah persatuan masyarakat.
Mereka menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarsuku, agama dan ras serta menempatkan persatuan Indonesia sebagai kepentingan bersama.
Merah Putih 81 Meter Jadi Simbol
Pengarakan Bendera Merah Putih sepanjang 81 meter menjadi salah satu simbol utama aksi.
Bagi peserta, bendera tersebut bukan hanya ornamen peringatan HUT ke-81 RI, tetapi juga menjadi pesan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan perjuangan nyata.
Pesan tersebut diterjemahkan melalui tuntutan pemberantasan korupsi, perang terhadap narkoba, penegakan hukum serta penolakan terhadap segala bentuk propaganda yang berpotensi memecah belah bangsa.
Salah satu pesan yang dibawa peserta berbunyi “Stop Propaganda Anak Bangsa #MuslimahGPIJakarta.”
Adapun massa aksi berasal dari berbagai organisasi dan almamater, antara lain UNPAM, UMJ, LP3I, GPI, UPN Veteran Jakarta, GMPRI, Universitas Terbuka, PNJ, UNJ, Global Institute, Solidaritas Pemuda Desa, Esa Unggul, UI, UIN, Universitas Islam Bekasi, BSI dan Unindra.
Jumlah massa tercatat meningkat secara bertahap. Sekitar pukul 14.05 WIB massa diperkirakan mencapai 500 orang, kemudian sekitar pukul 15.50 WIB menjadi kurang lebih 600 orang. Pada pukul 16.00 WIB jumlah massa dilaporkan mencapai sekitar 1.000 orang sebelum bergerak menuju Monas.
Pimpinan/koordinator lapangan aksi disebut Ibrahim Yusup F. dan Ribdho.
Kemerdekaan Harus Punya Makna
Aksi GPI menunjukkan bahwa momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya dimaknai melalui seremoni dan pengibaran bendera.
Bagi peserta aksi, kemerdekaan harus diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, penegakan hukum yang tegas, perlindungan generasi muda dari ancaman narkoba serta persatuan masyarakat yang tidak mudah dipecah oleh provokasi.
Situasi selama kegiatan berdasarkan pemantauan berlangsung aman dan kondusif.
Deklarasi kemudian ditutup dengan pekikan:
“MERDEKA! Sekali Merdeka, Tetap Merdeka! Indonesia Jaya, Bersinar, dan Berdaulat Selamanya!”
Mata Aktual News menyajikan pemberitaan berdasarkan informasi dan materi aksi yang diperoleh di lapangan.
Seluruh tuntutan dan pernyataan dalam deklarasi ditempatkan sebagai sikap peserta aksi, bukan sebagai fakta atau kesimpulan redaksi. Pemberitaan tetap mengedepankan prinsip verifikasi, keberimbangan, akurasi serta Kode Etik Jurnalistik.
Reporter: Arman Maulana
Editor: Redaksi








