Jakarta | Mata Aktual News — Yayasan TRITARASA (Tri Ananta Sagraha Sadu) mendorong perubahan paradigma dalam penanganan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) di Indonesia. Pendekatan rehabilitasi dinilai tidak lagi efektif jika disamaratakan dan hanya berbasis durasi waktu, tanpa mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan tiap individu.
Hal tersebut disampaikan Bonike, selaku Peneliti dan Pengembangan (Litbang) sekaligus konsultan Yayasan TRITARASA, dalam kegiatan yang digelar di Hotel Ibis Jakarta Pusat
“Masalah napza di Indonesia bukan hal baru dan jumlahnya cukup besar. Namun, penanganannya masih belum optimal karena cenderung menggunakan satu pola untuk semua orang. Padahal, setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan pemulihan yang berbeda,” ujar Bonike.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, model rehabilitasi dengan durasi baku tiga bulan, enam bulan, hingga satu tahun belum tentu menjamin pemulihan yang berkelanjutan. TRITARASA menilai pemulihan adiksi harus diawali dengan asesmen menyeluruh yang mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.

Bonike menegaskan, TRITARASA bukanlah lembaga rehabilitasi konvensional, melainkan Addiction Case Management Center yang menerapkan pendekatan berbasis kasus. Setiap individu yang ditangani akan melalui proses asesmen mendalam sebelum ditentukan bentuk layanan yang paling sesuai, baik program menginap, layanan privat, maupun pendampingan di rumah.
“Tidak semua orang efektif dirawat dalam satu tempat yang sama. Ada yang justru membutuhkan pendekatan personal dan berbasis keluarga agar proses pemulihannya berjalan optimal,” jelasnya.
Pendekatan tersebut didukung oleh layanan pendampingan yang bersifat fleksibel dan berkelanjutan, termasuk layanan 24 jam untuk memastikan klien mendapatkan dukungan saat dibutuhkan.
Selain penanganan adiksi, TRITARASA juga menyediakan layanan di bidang kesehatan, sosial, ekonomi, lingkungan, serta pendampingan hukum. Selama lebih dari lima tahun beroperasi, yayasan ini aktif membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai program edukasi dan penguatan kapasitas komunitas.
TRITARASA juga terlibat dalam program pencegahan penyalahgunaan napza, termasuk edukasi ke sekolah-sekolah, serta pendampingan dan pelatihan bagi lembaga rehabilitasi yang baru berkembang.
Dalam kesempatan yang sama, psikolog Dr. Tri Iswardani Sadatun menekankan adanya keterkaitan erat antara trauma psikologis dengan penyalahgunaan napza. Menurutnya, individu yang mengalami trauma berkepanjangan memiliki risiko lebih tinggi menggunakan zat adiktif sebagai bentuk pelarian atau self-medication.
“Trauma yang tidak tertangani membuat seseorang mencari cara instan untuk meredakan ketidaknyamanan psikologis. Jika akar persoalan tidak dipahami, maka penanganan adiksi tidak akan maksimal,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penerapan pendekatan trauma-informed care dalam penanganan adiksi, dengan memahami pengalaman traumatik individu sebagai dasar perencanaan pemulihan.
Melalui pendekatan personal dan komprehensif tersebut, TRITARASA berharap dapat berkontribusi dalam membangun sistem penanganan napza yang lebih efektif dan berkelanjutan di Indonesia.
Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Akmal Aoulia







