REKAN INDONESIA: UJI COBA VAKSIN TBC ASING BUKTI LEMAHNYA KEDAULATAN DAN KETAHANAN KESEHATAN

- Jurnalis

Sabtu, 10 Mei 2025 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mata Aktual News, Jakarta Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia mengecam keras kebijakan pemerintah yang memberikan izin uji klinis vaksin TBC dari perusahaan asing terhadap warga Indonesia. Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, menyatakan bahwa kebijakan ini mencerminkan lemahnya ketahanan dan kedaulatan kesehatan bangsa. (10/5/2025)

“Pemerintah kembali menunjukkan ketergantungan pada pihak asing dengan membiarkan rakyatnya menjadi objek eksperimen. Ini bukan kerja sama, ini bentuk penjajahan baru dalam bidang kesehatan,” kata Agung.

Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 10% kandidat vaksin gagal pada uji klinis tahap lanjut akibat efek samping serius. Dalam jurnal Nature Reviews Drug Discovery, tercatat bahwa hanya 6% kandidat vaksin yang berhasil melewati semua fase uji klinis dan mendapatkan persetujuan penggunaan luas. Risiko ini semakin besar jika dilakukan di negara-negara dengan regulasi etik dan pengawasan yang lemah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah Buruk Uji Coba di Negara Berkembang

Agung mengingatkan bahwa Indonesia harus belajar dari kasus-kasus di negara lain. Pada 2009, uji coba vaksin HPV oleh PATH dan Merck di India menyebabkan kematian sedikitnya 7 remaja putri — menyebabkan dihentikannya program tersebut oleh pemerintah India. Di Afrika, sejumlah uji coba vaksin malaria dan ebola memicu kontroversi karena pelanggaran etik dan lemahnya persetujuan sadar dari peserta.

“Ketika regulasi lemah dan rakyat kurang diberdayakan, eksperimen atas nama ilmu pengetahuan berubah menjadi eksploitasi,” ujar Agung.

Indonesia Mampu Produksi Vaksin Sendiri

Rekan Indonesia juga menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk memproduksi vaksin sendiri. Melalui Bio Farma, Indonesia telah menjadi salah satu produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara, bahkan mengekspor ke lebih dari 150 negara. Dalam pandemi COVID-19, Indonesia membuktikan bisa memproduksi vaksin seperti IndoVac — hasil kolaborasi Bio Farma dan Baylor College of Medicine — yang telah mendapatkan izin edar dari BPOM.

“Dengan dukungan anggaran dan kebijakan yang tepat, kita tidak perlu bergantung pada vaksin luar negeri. Sayangnya, alih-alih memperkuat riset dalam negeri, pemerintah justru menggadaikan otoritas ilmiah kita kepada sponsor asing,” ucap Agung.

Tuntutan untuk Pemerintah

Rekan Indonesia mendesak pemerintah:

Menghentikan seluruh uji coba vaksin asing yang tidak memenuhi standar etik dan transparansi.

Memperkuat riset dan pengembangan vaksin nasional sebagai bagian dari ketahanan kesehatan.

Meningkatkan anggaran riset kesehatan yang saat ini masih di bawah 1% dari APBN.

Menjamin bahwa setiap riset kesehatan melibatkan persetujuan sadar dan pengawasan ketat dari lembaga etik independen.

“Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama. Indonesia bukan negara eksperimen. Kita punya kapasitas, kita punya lembaga, kita punya sumber daya. Yang kita butuhkan adalah kemauan politik,” tutup Agung.

Penulis: Syahrudin Akbar
Editor: M Hasbi Fadilah

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

RS Pakuhaji Rayakan HUT ke-8, Teguhkan Komitmen “Tumbuh Bersama Melayani dengan Ikhlas”
Sixfeo Football Warnai HUT ke-8 RSUD Pakuhaji, Perkuat Sinergi Layanan Kesehatan
Wamen HAM Nilai Aduan Rekan Indonesia soal Permenkes Kegawatdaruratan Sudah Tepat
Bupati Tangerang: Kepala Puskesmas Harus Layani Warga dengan Hati
Peringkat RSUD Tipe D DKI Dirilis, Transparansi Layanan Publik Disorot
Rekan Indonesia Kampanyekan STOP TBC dengan TOSS di CFD Jakarta Barat
Layanan Jalan, Akar Masalah Kesehatan Jakarta Masih Mandek
Viral Dugaan Tolak Lansia, Dua Petugas RSUD Kumpulan Pane Diperiksa Inspektorat
Berita ini 66 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 18:02 WIB

RS Pakuhaji Rayakan HUT ke-8, Teguhkan Komitmen “Tumbuh Bersama Melayani dengan Ikhlas”

Senin, 26 Januari 2026 - 18:37 WIB

Sixfeo Football Warnai HUT ke-8 RSUD Pakuhaji, Perkuat Sinergi Layanan Kesehatan

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:22 WIB

Wamen HAM Nilai Aduan Rekan Indonesia soal Permenkes Kegawatdaruratan Sudah Tepat

Selasa, 20 Januari 2026 - 03:53 WIB

Bupati Tangerang: Kepala Puskesmas Harus Layani Warga dengan Hati

Senin, 19 Januari 2026 - 18:58 WIB

Peringkat RSUD Tipe D DKI Dirilis, Transparansi Layanan Publik Disorot

Berita Terbaru

Nasional

PENGUMUMAN STOP PERS

Jumat, 27 Feb 2026 - 02:45 WIB

P0LRI

Kapolres Tangerang Kota Rangkul Media, Santuni Anak Yatim

Kamis, 26 Feb 2026 - 20:06 WIB

Pemerintahan

JATA: Eksploitasi Air Tanah di Jakarta Picu Kerusakan Masif

Kamis, 26 Feb 2026 - 05:13 WIB

Verified by MonsterInsights