JAKARTA, Mata Aktual News — Banjir informasi menerjang. Hoaks dan disinformasi berseliweran tanpa rem. Di tengah kondisi itu, keteladanan Nabi Muhammad SAW didorong menjadi benteng literasi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar dan Diskusi Publik “Keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai Sumber Literasi” yang digelar Perpustakaan Pusat Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) bersama Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), Perisai Syarikat Islam (SI) Jakarta Timur, dan Institute for Literacy dan Education, Sabtu (5/9/2026).
Seminar yang digelar secara hybrid di area Perpustakaan Pusat UIA, Jakarta, ini membedah keteladanan Rasulullah SAW dari berbagai sisi. Mulai pendidikan, jurnalistik, lingkungan, perpustakaan, hingga gerakan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan sekadar bicara soal membaca buku. Forum ini mengajak peserta membaca zaman, menyaring informasi, berpikir kritis, dan menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab.
Acara dipandu MC Bendoro Indri dan moderator Anugrah Widhy, S.Fil.I. Seminar resmi dibuka Wakil Rektor I UIA, Dr. Rohmad Adi Yulianto, Lc., LL.M.
Dalam sambutannya, Dr. Rohmad mengingatkan bahwa tradisi literasi dalam Islam sudah berakar sejak wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW.
“Perintah Iqra adalah komando literasi pertama dalam sejarah Islam. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai sumber literasi berarti kita meneladani cara beliau memahami realitas, mengolah informasi dengan tabayun, dan menyampaikannya demi kemaslahatan umat,” tegasnya.
Direktur Institute for Literacy dan Education, Mohammad Anthoni, mengingatkan bahwa literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis.
Menurutnya, pendidikan berbasis keteladanan Nabi Muhammad SAW harus mampu membentuk manusia yang memiliki pemahaman mendalam, empati, serta daya kritis.
Artinya, masyarakat jangan hanya menjadi konsumen informasi. Harus mampu memilah mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan.
Ketua PJMI, Ismail Lutan, menyoroti tantangan berat dunia pers di tengah ledakan informasi digital.
Kecepatan menyampaikan berita tidak boleh mengalahkan akurasi. Apalagi mengorbankan kejujuran.
Nilai siddiq dan amanah yang dicontohkan Rasulullah SAW, menurut Ismail, harus menjadi fondasi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“PJMI sejak awal dicanangkan oleh para pendirinya memiliki semangat untuk mengusung jurnalisme profetik, jurnalisme kenabian,” ujarnya.
Jurnalisme, kata dia, bukan sekadar mengejar berita cepat. Tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mencerdaskan masyarakat.
Kepala Perpustakaan UIA, Zubair, S.Pd., M.Pd., ingin mengubah cara pandang terhadap perpustakaan.
Perpustakaan jangan cuma dianggap gudang buku.
Perpustakaan perguruan tinggi harus menjadi ruang bertemunya gagasan, tempat berdiskusi, meneliti, melahirkan karya, sekaligus menjadi pusat dinamika pemikiran.
Perpustakaan Pusat UIA pun didorong menjadi “laboratorium peradaban” bagi sivitas akademika dan masyarakat.
Lingkungan Juga Butuh Literasi
Isu lingkungan ikut menjadi sorotan.
Jurnalis senior yang telah puluhan tahun mengabdi di Kantor Berita Antara menekankan pentingnya literasi ekologi.
Persoalan lingkungan, menurutnya, tidak bisa dipandang sebelah mata. Kebijakan pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan agar pembangunan tidak justru meninggalkan persoalan baru bagi generasi mendatang.
Ketua PERISAI Syarikat Islam Jakarta Timur, Nanang Kosim, M.Ag., melihat keteladanan Nabi Muhammad SAW dari perspektif sejarah dan pergerakan sosial.
Rasulullah SAW dinilai mampu mengubah masyarakat melalui pengetahuan, keteladanan, karakter, dan kesadaran sosial.
Nilai-nilai itulah yang dinilai perlu kembali dihidupkan, khususnya di tengah generasi muda.
Seminar ini menjadi pengingat bahwa masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membaca.
Literasi harus membuat manusia mampu berpikir.
Mampu memilah informasi. Mampu melakukan tabayun. Mampu membedakan fakta dan kabar bohong. Dan yang paling penting, mampu menggunakan pengetahuan untuk kemaslahatan.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi benang merah dari seluruh pembahasan tersebut.
Kolaborasi Perpustakaan Pusat UIA, PJMI, Perisai SI Jakarta Timur, dan Institute for Literacy dan Education diharapkan menjadi momentum memperkuat budaya literasi yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membangun akhlak.
Seminar turut dihadiri Dr. Misbah Fikriyanto, Wakil Rektor III UIA; Dr. Kurnia, Sekretaris UIA; serta pengurus dan anggota PJMI, Perisai Syarikat Islam Jakarta Timur, Jalin Pena Indonesia, Halopedeka.com, dan Institute for Literacy dan Education.
Pesannya tegas: di tengah zaman ketika informasi bisa menyebar dalam hitungan detik, keteladanan Nabi Muhammad SAW harus menjadi kompas agar masyarakat tidak tersesat di tengah derasnya arus informasi.
Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Redaksi








