Jakarta, Mata Aktual News— Kebudayaan tidak selalu hadir melalui panggung pertunjukan, festival, atau perayaan identitas sebuah bangsa. Dalam situasi tertentu, budaya justru dapat menjadi jembatan kemanusiaan membuka ruang dialog, menghadirkan empati, sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai bangsa melalui kisah yang menyentuh sisi paling universal dari kehidupan.
Semangat itulah yang terasa dalam pameran “Living the War: Children”, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 35 tahun Proklamasi Kemerdekaan Ukraina. Pameran tersebut menjadi ruang refleksi mengenai pengalaman anak-anak Ukraina yang terdampak perang.
CEO AVR Performa sekaligus BMDN, Renee Partina, turut hadir dalam agenda yang digelar Kedutaan Besar Ukraina tersebut.di Jakarta. Senin (24/8/2026).Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring hubungan internasional, khususnya melalui jalur kebudayaan, media digital, kreativitas, dan diplomasi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbeda dengan agenda kebudayaan yang umumnya menampilkan keindahan seni, tradisi, dan identitas suatu bangsa, “Living the War: Children” menghadirkan wajah lain dari kehidupan manusia. Pengunjung diajak melihat perang bukan hanya melalui angka korban, peta konflik, maupun pemberitaan politik, tetapi melalui pengalaman manusia terutama anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan dalam situasi peperangan.
Pameran ini merupakan bagian dari proyek Bring Kids Back UA, yang mengangkat perhatian publik terhadap kondisi dan pengalaman anak-anak Ukraina yang terdampak perang.
Di balik konflik bersenjata, terdapat anak-anak yang kehilangan rasa aman, terpisah dari lingkungan tempat mereka tumbuh, serta menghadapi ketidakpastian tentang masa depan. Pesan tersebut menjadikan pameran ini lebih dari sekadar dokumentasi peristiwa. Ia menjadi pengingat bahwa setiap konflik selalu meninggalkan luka kemanusiaan dan dampak panjang bagi generasi yang seharusnya tumbuh dalam suasana damai.
Budaya Membuka Ruang Perjumpaan
Ketika politik menghadirkan perbedaan kepentingan, kebudayaan dapat membuka ruang perjumpaan. Ketika konflik menciptakan jarak, nilai-nilai budaya dan kemanusiaan dapat menjadi jembatan untuk saling memahami.
Dalam konteks tersebut, kehadiran Renee Partina memiliki arti strategis. Ruang-ruang perjumpaan lintas bangsa tidak hanya penting untuk membangun komunikasi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi baru di bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif.
Kebudayaan merupakan kekuatan yang dapat dikembangkan melalui ekosistem media digital, kreativitas, komunikasi, serta jejaring internasional. Diplomasi masyarakat melalui media dan kebudayaan dinilai memiliki potensi besar untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia sekaligus membangun pemahaman terhadap bangsa-bangsa lain.
Penyelenggaraan “Living the War: Children” juga melibatkan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, menunjukkan adanya perhatian internasional terhadap persoalan kemanusiaan, khususnya perlindungan anak dan masyarakat sipil yang terdampak konflik.
Perwakilan Kedutaan Ukraina untuk Indonesia, Yevgeni Shynkarenko, menegaskan bahwa pameran tersebut bukan sekadar agenda seni atau dokumentasi, melainkan membawa pesan kemanusiaan yang kuat.
“Lebih dari sekadar sebuah pameran, ‘Living the War: Children’ dapat dibaca sebagai pesan kemanusiaan bahwa anak-anak seharusnya memiliki hak untuk tumbuh dalam rasa aman, mendapatkan pendidikan, bermain, berkarya, dan menatap masa depan tanpa bayang-bayang peperangan,” tegasnya.
Diplomasi yang Berangkat dari Empati
Kolaborasi lintas budaya menjadi ruang penting untuk menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui ekonomi, teknologi, dan politik. Kebudayaan, kreativitas, empati, serta nilai-nilai kemanusiaan juga merupakan kekuatan strategis dalam membangun hubungan antarbangsa.
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa diplomasi budaya dapat mengambil banyak bentuk. Tidak harus selalu melalui pertunjukan besar atau festival internasional, tetapi juga melalui keberanian untuk hadir, mendengarkan, memahami, dan membangun dialog.
Kehadiran Renee Partina dalam pameran tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah memperkuat jejaring kolaborasi antara Indonesia dengan komunitas internasional melalui kebudayaan dan media digital.
Pada akhirnya, diplomasi budaya bukan hanya tentang memperkenalkan siapa kita kepada dunia. Lebih jauh, diplomasi budaya adalah tentang kesediaan untuk mendengarkan kisah bangsa lain, memahami luka kemanusiaannya, dan menemukan titik temu sebagai sesama manusia.
Sebab, di tengah dunia yang masih menghadapi berbagai konflik dan perbedaan, kebudayaan memiliki satu kekuatan yang tak ternilai: mendekatkan manusia kepada manusia lainnya.
Reporter Syahrudin Akbar
Editor Redaksi








