Bogor, Mata Aktual News – Peristiwa memilukan dialami seorang ibu hamil di Kabupaten Bogor. Janin yang dikandung selama sekitar enam bulan tak berhasil diselamatkan setelah menjalani penanganan medis di RS Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Kasus ini memunculkan sorotan terhadap kesiapan layanan kegawatdaruratan ibu dan anak, khususnya ketersediaan dokter spesialis serta mekanisme rujukan pasien.
Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) Kabupaten Bogor Raya mengawal penanganan pasien sejak menerima laporan dari suami korban yang mengabarkan istrinya mengalami kram perut hebat disertai perdarahan.
Ketua KPD Rekan Indonesia Bogor Raya, Meirura Lovita Chaniago atau Rura, mengatakan pihaknya langsung mengarahkan keluarga membawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat. Setelah bidan merekomendasikan penanganan di rumah sakit, Rekan Indonesia turut mendampingi proses menuju IGD PONED RS Sehat Terpadu Dompet Dhuafa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah menjalani pemeriksaan medis, termasuk pengecekan detak jantung janin dan pemeriksaan laboratorium, dokter menyatakan janin telah meninggal dunia sehingga pasien harus segera mendapatkan tindakan operasi.
Di tengah kondisi darurat tersebut, keluarga sempat dihadapkan pada rencana rujukan ke RSUD Leuwiliang karena dokter spesialis obstetri dan ginekologi tidak berada di lokasi. Situasi semakin berat ketika keluarga mengaku tidak sanggup membayar biaya ambulans rujukan yang diperkirakan mencapai Rp2,5 juta.
“Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan LKC Dompet Dhuafa dan manajemen rumah sakit agar pasien tetap mendapatkan tindakan tanpa harus terkendala proses rujukan maupun biaya ambulans,” ujar Rura, Selasa (21/7/2026).
Koordinasi tersebut membuahkan hasil. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Widja Widajaka, Sp.OG, akhirnya datang ke rumah sakit untuk melakukan operasi. Dengan demikian, pasien dapat ditangani di lokasi tanpa harus dirujuk ke rumah sakit lain.
Meski demikian, nyawa janin tidak berhasil diselamatkan. Usai operasi, pasien masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU karena kondisi tekanan darah dan kadar hemoglobin (Hb) yang belum stabil.
Rura menyampaikan duka mendalam kepada keluarga pasien. Ia menegaskan, peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan layanan darurat ibu dan anak agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Keselamatan ibu hamil tidak boleh bergantung pada ada atau tidaknya dokter spesialis di tempat maupun kemampuan keluarga membayar biaya rujukan. Sistem pelayanan harus mampu merespons kondisi darurat secara cepat, tepat, dan tanpa hambatan,” tegasnya.
Rekan Indonesia berharap pemerintah, fasilitas kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat sistem layanan obstetri dan neonatal emergensi, termasuk memastikan ketersediaan tenaga medis, ambulans rujukan, serta akses pelayanan yang cepat dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Redaksi







