Dolar Menguat, Rupiah Tertekan; Pengamat Soroti Akar Struktural dan Arah Kebijakan Pemerintah

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Mata Aktual News — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan publik di tengah ketidakpastian global dan dinamika geopolitik internasional. Sejumlah kalangan menilai tekanan terhadap rupiah tidak semata disebabkan faktor eksternal, tetapi juga berkaitan dengan struktur ekonomi nasional yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Peneliti Nalar Bangsa Institute, Bin Bin Firman Tresnadi, dalam analisis tertulisnya yang dirilis Selasa (20/1/2026), menilai bahwa kerentanan rupiah merupakan dampak dari ketergantungan jangka panjang terhadap modal asing, impor strategis, serta lemahnya basis produksi domestik.

“Setiap kali terjadi gejolak global, nilai tukar rupiah hampir selalu menjadi korban pertama. Ini menunjukkan ada persoalan struktural yang belum sepenuhnya tertangani,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun demikian, Bin Bin menilai pemerintahan saat ini telah mulai membangun fondasi baru melalui sejumlah kebijakan strategis yang bertujuan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Salah satu kebijakan yang disoroti adalah kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di sistem keuangan domestik. Kebijakan ini dinilai dapat memperkuat cadangan devisa nasional, meningkatkan likuiditas valuta asing di dalam negeri, serta menekan volatilitas nilai tukar.

Selain itu, program hilirisasi mineral dan sumber daya alam juga disebut sebagai langkah penting dalam menggeser struktur ekonomi dari berbasis ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah. Menurutnya, hilirisasi berpotensi menekan kebutuhan impor bahan baku dan memperkuat fundamental neraca perdagangan.

Di sektor energi, pemerintah dinilai mendorong kemandirian energi nasional melalui kebijakan mandatori biodiesel, pembangunan kilang, peningkatan lifting migas, serta pengembangan energi terbarukan. Langkah ini diyakini dapat mengurangi beban impor migas yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap rupiah.

Bin Bin juga menyoroti pembentukan Danantara sebagai instrumen pembiayaan pembangunan nasional berbasis modal domestik. Skema ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing jangka pendek yang kerap memicu gejolak di pasar keuangan.

Di sektor pangan, kebijakan swasembada dan industrialisasi pertanian dinilai tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas nilai tukar melalui penurunan impor pangan strategis.

Sementara itu, perluasan Local Currency Transaction (LCT) dan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral dinilai sebagai langkah diversifikasi yang dapat mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi perdagangan regional.

“Penguatan cadangan devisa, penertiban ekspor, dan transparansi rantai pasok juga menjadi faktor penting agar rupiah memiliki bantalan yang lebih kuat menghadapi tekanan global,” tambahnya.

Menurut Bin Bin, rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan arah baru pembangunan ekonomi yang lebih menekankan pada kemandirian dan ketahanan nasional. Namun ia menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada konsistensi implementasi, tata kelola yang baik, serta pengawasan publik.

“Stabilitas rupiah tidak bisa dicapai secara instan. Ia membutuhkan keberanian negara untuk memperkuat sektor produksi, energi, pangan, dan pembiayaan nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Akmal Aoulia

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Festival Tring Pegadaian Dorong Literasi Keuangan dan Ekonomi Kreatif di Bitung
Iga Bakar Cilinaya, Warisan Rasa Lombok Utara di Cileungsi
GOZIMA Gaspol! Performa Naik, Dompet Tetap Selamat
StayHigh Cafe Cileungsi: Nongkrong Seru dengan Tema Horor
Sate Kambing Hanjawar Puncak Bersiap Tampung Lebih Banyak Pelanggan, Renovasi Segera Dimulai
Rekan Indonesia Kampanyekan STOP TBC dengan TOSS di CFD Jakarta Barat
13,7 T Digelontorkan, Akses Pasar UMKM Jakarta Makin Terbuka
Pelni dan BPH Migas Pastikan Pasokan BBM Aman di Bitung, Arus Balik Nataru 2025/2026 Terjaga
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 21:11 WIB

Iga Bakar Cilinaya, Warisan Rasa Lombok Utara di Cileungsi

Senin, 26 Januari 2026 - 10:09 WIB

GOZIMA Gaspol! Performa Naik, Dompet Tetap Selamat

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:56 WIB

Dolar Menguat, Rupiah Tertekan; Pengamat Soroti Akar Struktural dan Arah Kebijakan Pemerintah

Selasa, 20 Januari 2026 - 23:56 WIB

StayHigh Cafe Cileungsi: Nongkrong Seru dengan Tema Horor

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:41 WIB

Sate Kambing Hanjawar Puncak Bersiap Tampung Lebih Banyak Pelanggan, Renovasi Segera Dimulai

Berita Terbaru

Pemerintahan

Kades Pondok Jaya Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2026

Sabtu, 31 Jan 2026 - 23:01 WIB

Pemerintahan

Rekan Indonesia Dukung Target 90 Persen Cakupan Air Bersih Jakarta

Sabtu, 31 Jan 2026 - 20:32 WIB

Verified by MonsterInsights