BOGOR, Mata Aktual News – Nama Durian Engkong Jonggol bukan sekadar tempat berburu buah durian. Di balik lapak dan aroma durian yang menggoda, tersimpan cerita panjang yang telah dirawat lintas generasi sejak 1965.
Kisah tersebut bermula dari seorang pria bernama Sa’ari, warga tanah Betawi Beji, Depok, yang hijrah ke wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor. Di tanah inilah Sa’ari menemukan tambatan hati sekaligus memulai perjalanan panjang berjualan durian lokal.

Lebih dari setengah abad berlalu, tradisi tersebut kini diteruskan generasi ketiga, Kiki, yang dikenal masyarakat sebagai Ustadz Kiki. Selain mengelola usaha durian, Kiki juga merupakan ulama setempat dan memiliki pondok pesantren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tangannya, warisan sang Engkong terus dikembangkan dengan tetap mempertahankan prinsip utama: menjual durian lokal dengan jujur dan menjaga kepercayaan pelanggan.
“Alhamdulillah sampai hari ini kita meneruskan apa yang sudah Engkong jalani sejak puluhan tahun. Kita jual durian lokal dari para petani yang ada di sekitar Jonggol, Cariu sampai Sukamakmur,” ungkap Kiki, Sabtu (29/8/2026).
Durian Engkong Jonggol menyediakan beragam varian durian lokal yang berasal dari kawasan Jonggol, Cariu dan Sukamakmur.
Meski masa panen raya pertama baru mulai memasuki musimnya, geliat pembeli sudah terasa. Pelanggannya bukan hanya warga sekitar Jonggol, tetapi juga datang dari Bekasi hingga daerah Subang dan Sukabumi.
“Kalau pelanggan beragam. Ada dari sekitar sini sampai dari Subang dan Sukabumi. Kami juga melayani penjualan pesanan se-Jawa Barat, dengan ongkir dibagi dua bersama pemesan,” kata pria yang akrab disapa Ustadz Kiki itu.
Menurutnya, Jonggol termasuk wilayah yang lebih awal memasuki musim panen durian. Setelah itu, musim panen bergerak ke sejumlah daerah lainnya, termasuk Banten hingga wilayah Sumatra Selatan.
Namun, bagi Kiki, bukan hanya soal kapan durian dipanen. Karakter rasa menjadi salah satu keunggulan yang harus dijaga.
“Kalau soal rasa dan karakter, kita lebih beda dari daerah lain. Kita akan jujur kepada pelanggan tentang ragam varian durian yang kita jual,” ujarnya.
Ia mengaku masih memegang teguh pesan yang diwariskan sang Engkong.
“Amanah dari Engkong saya, kalau kita jualan jangan hanya cari untung. Kepercayaan itu utama agar pelanggan tidak lari. Rezeki itu sudah Allah atur dan tidak akan tertukar,” tegasnya.
Tak berhenti pada aktivitas jual beli, Durian Engkong Jonggol juga berencana mendorong keberadaan durian lokal dan para petani di wilayah Jonggol, Cariu serta Sukamakmur.
Memasuki masa panen raya berikutnya, Kiki berencana menggelar Festival Durian Lokal Jonggol yang akan melibatkan para petani durian dari kawasan tersebut.
Festival itu diperkirakan digelar antara September hingga November 2026.
“Insyaallah masuk masa panen raya selanjutnya kita akan menggelar festival durian yang akan diikuti para petani durian lokal Jonggol dan sekitarnya,” kata Kiki.
Ia juga mengajak masyarakat untuk datang langsung menikmati berbagai durian lokal yang tersedia.
“Untuk masyarakat silakan datang ke Durian Engkong Jonggol. Akan ada bonus-bonus dan harga terbaik serta kualitas durian lokal yang tidak kalah enaknya,” tambahnya.
Harga durian yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah untuk kategori super premium.
Bagi pecinta durian lokal yang ingin mencicipi langsung, Durian Engkong Jonggol berada di Kp. Rawa Mamur, Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16830.
Lokasinya juga dapat dicari melalui Google Maps dengan kata kunci “Durian Engkong Jonggol.”
Informasi mengenai aktivitas dan rencana festival durian dapat dipantau melalui akun TikTok @durianengkongjonggol.
Reporter: Piye
Editor: Redaksi








