Tebingtinggi, Mata Aktual News—
Kunjungan Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih ke keluarga pedagang Pasar Gambir yang meninggal dunia dan menjenguk pasien lansia yang sempat ditolak RSUD dr. Kumpulan Pane memantik perhatian publik. Bukan karena gesturnya, melainkan karena momentumnya.

Kunjungan baru dilakukan pada Sabtu (17/1/2026), hampir dua pekan setelah dua peristiwa tersebut mengguncang perasaan warga dan memantik kegaduhan luas. Di mata publik, empati yang datang belakangan tetap diapresiasi, namun pertanyaan tentang keterlambatan tak terelakkan.
“Kalau dari awal hadir, suasananya mungkin berbeda. Sekarang orang sudah telanjur kecewa,” ujar seorang warga Tebingtinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus yang menjadi sorotan publik itu adalah meninggalnya Lindon Malau (61), pedagang Pasar Gambir yang pingsan saat rapat penataan kios, serta kasus Ibu Suliyem (64), pasien lansia yang sempat mengalami penolakan layanan di RSUD dr. Kumpulan Pane.
Situasi ini kian menarik perhatian karena berlangsung beriringan dengan menguatnya wacana hak interpelasi di DPRD Kota Tebingtinggi. Rapat paripurna DPRD dijadwalkan pada Senin (19/1/2026), dengan materi yang salah satunya menyentuh langsung persoalan Pasar Gambir dan pelayanan kesehatan.
Tak pelak, sebagian warga mengaitkan kunjungan Wali Kota dengan dinamika politik tersebut. “Wajar kalau publik menghubungkan. Timing-nya berdekatan,” kata warga lainnya, seraya menegaskan bahwa penilaian itu tumbuh dari persepsi publik, bukan tuduhan.
Sorotan juga mengarah pada aktivitas Kepala Dinas Perdagangan yang disebut-sebut melakukan pertemuan informal dengan sejumlah anggota DPRD di sebuah kafe kawasan Brohol. Di ruang publik, pertemuan ini memunculkan dua tafsir: komunikasi biasa atau manuver menjelang interpelasi.
Pemerintah Kota Tebingtinggi sendiri menegaskan bahwa kunjungan Wali Kota merupakan bentuk empati dan tanggung jawab moral. Dalam keterangannya, Wali Kota menyampaikan belasungkawa dan permohonan maaf kepada keluarga pedagang Pasar Gambir serta kepada keluarga pasien RSUD.
Wali Kota juga menyatakan akan melakukan evaluasi dan tidak segan mengambil langkah tegas bila ditemukan unsur kelalaian dalam pelayanan publik.
Namun bagi sebagian warga, empati simbolik tak cukup. Publik menunggu pembenahan nyata, bukan sekadar hadir ketika tekanan membesar. “Yang dibutuhkan itu perubahan cara kerja, bukan hanya kunjungan,” ujar warga.
Dengan agenda interpelasi yang tinggal hitungan hari, publik kini menanti apakah respons pemerintah kota akan berhenti pada gestur, atau berlanjut pada keterbukaan dan keberanian membenahi persoalan secara mendasar.
Reporter: AMan
Editor: Redaktur Pelaksana







