Direktur Jakarta Institute: Isu Narkoba Kerap Dijadikan Legitimasi Intervensi AS

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Mata Aktual News – Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, menilai isu narkoba kerap digunakan Amerika Serikat sebagai narasi moral untuk membenarkan intervensi terhadap negara-negara berdaulat. Menurutnya, pola tersebut dapat dilihat secara jelas dalam invasi Amerika Serikat ke Panama pada 1989.

Agung menyebut, invasi yang dikenal dengan nama Operation Just Cause tidak semata-mata didorong oleh kepentingan penegakan hukum terkait narkotika, melainkan berkaitan erat dengan agenda geopolitik Amerika Serikat di kawasan Amerika Tengah.

“Panama 1989 menunjukkan bahwa perang melawan narkoba sering kali tidak berdiri sendiri. Narasi tersebut menjadi instrumen politik untuk mengamankan kepentingan strategis Amerika Serikat,” ujar Agung kepada Mata Aktual News, Senin (5/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Invasi tersebut menargetkan Presiden Panama saat itu, Manuel Noriega, yang dituduh terlibat dalam jaringan narkotika internasional dan dianggap mengancam keamanan warga negara Amerika Serikat. Operasi militer itu melibatkan puluhan ribu pasukan AS dan berujung pada penangkapan Noriega, yang kemudian diadili di Amerika Serikat.

Namun demikian, Agung menilai tuduhan narkoba terhadap Noriega tidak dapat dilepaskan dari konteks geopolitik global kala itu, terutama menjelang pengalihan kendali Terusan Panama dari Amerika Serikat kepada pemerintah Panama.

“Masalah utamanya bukan semata narkoba, melainkan kekhawatiran Washington kehilangan pengaruh atas jalur perdagangan strategis dunia,” katanya.

Agung juga mengungkapkan bahwa sebelum dicap sebagai narco-dictator, Noriega memiliki hubungan panjang dengan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA). Hubungan tersebut, menurutnya, berubah seiring pergeseran kepentingan politik.

“Ketika masih sejalan dengan kepentingan Amerika, Noriega dipelihara. Namun saat ia tidak lagi patuh, narasi kriminalisasi mulai dibangun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agung menilai pola serupa dapat dicermati dalam hubungan Amerika Serikat dengan Venezuela saat ini. Presiden Venezuela Nicolás Maduro selama bertahun-tahun menjadi sasaran sanksi ekonomi serta tuduhan keterlibatan kejahatan lintas negara oleh Washington, tuduhan yang secara konsisten dibantah pemerintah Venezuela.

“Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Sejarah menunjukkan, ketika sebuah negara memiliki sumber daya strategis dan pemimpinnya tidak tunduk pada kepentingan global tertentu, isu keamanan sering dijadikan pintu masuk tekanan politik dan ekonomi,” kata Agung.

Ia menegaskan, praktik intervensi dengan dalih moral sepihak berpotensi melemahkan prinsip kedaulatan negara serta tatanan hukum internasional.

“Jika intervensi selalu dibenarkan atas nama moralitas sepihak, maka konsep kedaulatan negara menjadi sangat rapuh,” ujarnya.

Agung menilai, invasi Panama 1989 hingga kini masih menjadi salah satu contoh paling kontroversial dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat pasca-Perang Dingin. Perbandingan dengan situasi Venezuela, menurutnya, perlu dibaca secara kritis sebagai pengingat bahwa dalih keamanan global kerap menyembunyikan kepentingan geopolitik yang lebih besar.

Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Anandra

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

28 Tahun Reformasi: Demokrasi Jalan, Oligarki Makin Berkuasa
PPP DKI Jakarta Gelar Silaturahmi dan Aksi Sosial Bersama Warga Bidaracina
Pers dan Bawaslu DKI Perkuat Sinergi, Kawal Pemilu Jujur dan Transparan
Suara PPP Tergerus di Jakarta, Kader Diminta Turun Gunung Rebut Basis Pemilih
PC NU Tebing Tinggi: Polri Jangan Ditarik Politik
Surat Terbuka ke Surya Paloh Viral, DPRD NasDem Tebingtinggi Dipertanyakan
Tangerang Hj Intan Nurul Hikmah Bagikan 1.000 Paket Sembako
KOMRAD Kecam Agresi Militer AS ke Venezuela, Sebut Bagian dari Konflik Kelas Global
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:53 WIB

28 Tahun Reformasi: Demokrasi Jalan, Oligarki Makin Berkuasa

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:26 WIB

PPP DKI Jakarta Gelar Silaturahmi dan Aksi Sosial Bersama Warga Bidaracina

Rabu, 6 Mei 2026 - 21:30 WIB

Pers dan Bawaslu DKI Perkuat Sinergi, Kawal Pemilu Jujur dan Transparan

Selasa, 28 April 2026 - 18:39 WIB

Suara PPP Tergerus di Jakarta, Kader Diminta Turun Gunung Rebut Basis Pemilih

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:09 WIB

PC NU Tebing Tinggi: Polri Jangan Ditarik Politik

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights