Respons Darurat Medis Bukan Tugas Puskesmas, Rekan Indonesia: Jangan Suruh Dokter Jadi Satpam

- Jurnalis

Jumat, 26 September 2025 - 22:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Jakarta, Mata Aktual News – Ketua KPW Rekan Indonesia DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan atau akrab disapa Tian, menanggapi pernyataan anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Desie Christyana Sari, terkait penambahan tenaga medis Puskesmas untuk merespons aduan warga.

Menurut Tian, usulan tersebut menunjukkan ketidakpahaman terhadap alur kegawatdaruratan medis di Jakarta.

“Kalau benar-benar darurat, jalur yang harus ditempuh adalah AGD (Ambulans Gawat Darurat 118/112) atau PSC 119, bukan Puskesmas. Sistem ini sudah ada dan memang didesain untuk itu,” ujar Tian saat ditemui wartawan, Jumat (26/9/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, Puskesmas memiliki fungsi utama sebagai layanan kesehatan primer, mulai dari pemeriksaan rutin, imunisasi, pengendalian penyakit, hingga rawat jalan. Jika dokter jaga dipaksa merespons panggilan darurat di luar, dikhawatirkan akan mengganggu pelayanan bagi pasien yang datang langsung.

“Kalau dokter jaga ke rumah warga, lalu ada pasien gawat datang ke Puskesmas, siapa yang melayani? Masa satpam Puskesmas? Itu jelas berbahaya,” tegas Tian.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, saat ini AGD mengoperasikan 65 unit ambulans dengan dukungan 9 dokter jaga, 581 perawat, 75 operator komunikasi, dan 31 pengemudi. Sementara studi independen mencatat rata-rata waktu respons ambulans PSC 119 masih berkisar 21–30 menit, yang menjadi tantangan di wilayah padat penduduk seperti Jakarta.

“Artinya, yang harus diperkuat adalah armada dan sistem AGD/PSC, bukan memindahkan beban ke Puskesmas,” tambah Tian.

Tiga Rekomendasi Rekan Indonesia

Rekan Indonesia DKI Jakarta mengusulkan tiga langkah konkret untuk memperbaiki layanan darurat medis di ibu kota, yaitu:

  1. Menambah armada dan tenaga AGD/PSC sesuai kebutuhan wilayah.
  2. Mengintensifkan edukasi publik agar masyarakat tahu nomor darurat resmi, bukan menghubungi Puskesmas.
  3. Memperbaiki sistem call center terintegrasi agar aduan warga dapat ditangani lebih cepat.

“Legislator seharusnya mendorong penguatan sistem yang sudah ada. Usulan menambah tenaga medis Puskesmas untuk jemput bola itu solusi instan, keliru, dan kontraproduktif,” pungkas Tian.


Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kios Kecil, Dosa Besar! Tramadol Ilegal Digulung Polisi
Dolar Menguat, Rupiah Tertekan; Pengamat Soroti Akar Struktural dan Arah Kebijakan Pemerintah
Rekan Indonesia Kampanyekan STOP TBC dengan TOSS di CFD Jakarta Barat
Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam yang Mengguncang Sistem: Satu Pena Mengubah Peta Kekuasaan
Kodim 0501/JP Berbagi Kasih, Gelar Santunan untuk Anak Yatim di Dua Yayasan Jakarta Pusat
Sembunyikan Sabu di Bungkus Rokok, Perantara Transaksi Narkotika Ditangkap Polsek Cisoka Polresta Tangerang
Ketika Sepak Bola Indonesia Dikhawatirkan Kembali Diseret ke Kepentingan Non-Sportif
Satpol PP Cipinang Besar Utara Tertibkan Pelajar yang Berkumpul di Depan Sekolah Al-Wildan
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 15:09 WIB

Kios Kecil, Dosa Besar! Tramadol Ilegal Digulung Polisi

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:56 WIB

Dolar Menguat, Rupiah Tertekan; Pengamat Soroti Akar Struktural dan Arah Kebijakan Pemerintah

Senin, 12 Januari 2026 - 17:25 WIB

Rekan Indonesia Kampanyekan STOP TBC dengan TOSS di CFD Jakarta Barat

Minggu, 16 November 2025 - 10:10 WIB

Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam yang Mengguncang Sistem: Satu Pena Mengubah Peta Kekuasaan

Jumat, 31 Oktober 2025 - 13:55 WIB

Kodim 0501/JP Berbagi Kasih, Gelar Santunan untuk Anak Yatim di Dua Yayasan Jakarta Pusat

Berita Terbaru

Pemerintahan

JATA: Eksploitasi Air Tanah di Jakarta Picu Kerusakan Masif

Kamis, 26 Feb 2026 - 05:13 WIB

Verified by MonsterInsights