
Jakarta, Mata Aktual News – Jaringan Warga Kota Jakarta (JAGA KOTA) menyoroti tingginya tingkat kehilangan air atau non-revenue water (NRW) di Ibu Kota yang masih mencapai 46 persen pada 20 Agustus 2025. Angka ini jauh di atas standar ideal internasional yang berada di bawah 20 persen.
Ketua JAGA KOTA, Asep Firmansyah, menyatakan kondisi ini mengkhawatirkan karena berdampak langsung pada hak warga atas air bersih.
“Dengan kapasitas produksi sekitar 20.000 liter per detik, produksi air PAM JAYA setara dengan 630–730 juta meter kubik per tahun. Namun hampir setengahnya hilang akibat kebocoran teknis maupun pencurian air. Ini berarti sekitar 290–335 juta meter kubik air lenyap setiap tahun,” ujar Asep.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika dikalkulasikan dengan tarif rata-rata Rp7.500 per meter kubik, kerugian ekonomi yang timbul akibat kebocoran ini mencapai Rp2,2–2,6 triliun per tahun.
Tertinggal dari Kota Tetangga
JAGA KOTA juga menilai, tingginya NRW menandakan buruknya tata kelola air di Jakarta. Sebagai perbandingan, Singapura mencatat NRW hanya sekitar 5 persen, Bangkok 25 persen, dan bahkan wilayah Eastern Manila, Filipina, berhasil menurunkan NRW dari 63 persen pada 1997 menjadi 11 persen pada 2011.
“Jakarta tertinggal jauh. Kalau Singapura bisa menekan NRW hingga 5 persen, kenapa kita justru masih di level 46 persen? Ini membuktikan ada masalah serius dalam manajemen air kita,” tegas Asep.
Mendesak Perbaikan Tata Kelola
JAGA KOTA mendesak Pemprov DKI Jakarta dan PAM JAYA untuk mengambil langkah cepat dalam menekan angka NRW. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Investasi pada infrastruktur jaringan pipa untuk mengurangi kebocoran teknis.
- Audit dan transparansi distribusi air untuk menekan praktik pencurian.
- Peningkatan kapasitas pengawasan dengan melibatkan warga sebagai pengontrol layanan air.
“Air adalah hak dasar warga. Jika setiap tahun ratusan juta meter kubik air hilang sia-sia, itu bukan hanya kerugian ekonomi, tapi juga pelanggaran terhadap hak warga Jakarta atas layanan publik yang layak,” pungkas Asep.
Jurnalis : Syahrudin Akbar
Editor : Merry WM







