Jakarta, Mata Aktual News— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal mulai April, dengan durasi lebih panjang serta kondisi yang cenderung lebih kering.
BMKG menyebutkan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September, dengan sekitar 61,4 persen wilayah mengalami puncak pada Agustus. Selain itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan seiring peralihan menuju fase netral hingga indikasi El Niño.
Menanggapi prakiraan tersebut, Koalisi Jaga Air Tanah Jakarta (JATA) mendorong langkah antisipatif guna menjaga ketersediaan air bersih di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Anggota Presidium JATA, Ervan Purwanto, mengatakan PAM Jaya perlu meningkatkan kesiapan, terutama dalam mengantisipasi potensi lonjakan kebutuhan air selama musim kemarau.
“Perlu dilakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan suplai, serta penyediaan solusi bagi masyarakat yang masih bergantung pada sumber air alternatif,” kata Ervan di Jakarta, Senin. (30/3/2026)
Ia menambahkan, upaya mitigasi juga dapat dilakukan melalui pencarian sumber air baku baru serta penyediaan sarana pendukung seperti tandon dan distribusi air bersih melalui mobil tangki di wilayah terdampak.
Selain itu, Ervan menilai pengawasan penggunaan air tanah oleh sektor komersial dan gedung bertingkat perlu diperketat.
Menurut dia, pemanfaatan air tanah yang tidak terkendali berpotensi memperparah krisis air saat kemarau dan mempercepat penurunan muka tanah di Jakarta.
“Pengawasan yang lebih ketat diperlukan agar penggunaan air tanah tetap terkendali dan tidak berdampak pada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, prakiraan kemarau ini menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi dan langkah mitigasi sejak dini.
Dengan langkah tersebut, diharapkan distribusi air bersih tetap terjaga serta mampu mendukung target peningkatan layanan perpipaan di Jakarta.
Reporter: Syahrudin








