Jakarta, Mata Aktual News — Peninjauan Komisi E DPRD DKI Jakarta ke area Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/9/2026), menyoroti kondisi fasilitas dan pengelolaan Perpustakaan HB Jassin.
Pasalnya, minat masyarakat terhadap perpustakaan sebagai fasilitas pendidikan dan literasi cukup besar. Sehingga, kondisi fasilitas harus mendukung kenyamanan pengunjung.
“Cuma sayang kalau kondisi perpustakaan tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya,” kata Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta yang juga Koordinator Komisi E Rany Mauliani. Dikutip dari laman https://dprd-dkijakartaprov.go.id
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi perpustakaan tersebut menuai perhatian DPRD DKI Jakarta. “Jadi, kita melihat semua kondisi perpustakaan di Taman Ismail Marzuki ini,” ujar Rany.
Menurut dia, konsep Perpustakaan HB Jassin dan area TIM sudah berkembang. Tidak lagi identik dengan suasana yang kaku.
Masyarakat bisa memanfaatkan kawasan tersebut untuk berbagai aktivitas bersama keluarga dan teman-teman. Termasuk menikmati kuliner.
Bahkan, Rany melihat peluang pengembangan kerja sama dengan pelaku UMKM. “Saya yakin, TIM akan terus meningkatkan (fasilitas) seluruhnya,” tutur dia.
Pada kesempatan itu, Ketua Komisi E M. Subki mengungkapkan, menemukan sejumlah bagian fasilitas perpustakaan yang perlu pembenahan. Antara lain, langit-langit dan pendingin ruangan.
“AC yang kurang dingin mungkin perlu disempurnakan,” ucap dia.
Ia juga menyoroti aspek pengelolaan Perpustakaan HB Jassin yang melibatkan beberapa pihak. Perlu ada kejelasan tanggung jawab agar penanganan fasilitas lebih optimal.
“Pengelolaan juga harus fokus. Ini lahannya milik Dinas Kebudayaan, tapi yang mengelola gedung Jakpro, penggunanya Dinas Perpustakaan. Jadi agak tumpang tindih, simpang siur,” ungkap Subki.
Sementara itu, Anggota Komisi E Astrid Kuya mengapresiasi kenyamanan Perpustakaan HB Jassin. Desain dan kondisi kawasan dapat membuat pengunjung betah membaca.
“Infrastrukturnya itu luar biasa, arsitekturnya itu luar biasa, jadi membuat kita nyaman,” ungkap dia.
Meski demikian, lanjut Astrid, beberapa koleksi buku butuh perbaikan. “Memang sudah agak sedikit robek, tapi ya diatur, dirapikan, diperbaiki,” kata Astrid.
Ia juga mendorong peningkatan sosialisasi kepada siswa sekolah. Khususnya bagi siswa tingkat SMP dan SMA agar semakin tertarik mengunjungi perpustakaan.
“Anak-anak SMP, SMA dibangkitkan literasinya, dibangkitkan keingintahuannya,” tutur Astrid.
Untuk memaksimal kunjungan, kata dia, pengelola perpustakaan bisa melibatkan pihak sekolah. Sehingga, kegiatan membaca menjadi pengalaman yang lebih menarik bagi generasi muda.
“Jadi diajak dari sekolah untuk ke perpustakaan,” kata Astrid.
Sedangkan untuk bagian luar perpustakaan tersebut, harap Astrid, lebih mengoptimalkan penghijauan. Dengan demikian, tersedia ruang yang lebih nyaman untuk membaca di luar ruangan.
“Halaman depan itu mungkin dibanyakin tanaman, pohon yang besar-besar,” ucap Astrid.
Komisi E berharap, Perpustakaan HB Jassin terus berkembang sebagai ruang literasi yang nyaman, terbuka, dan menarik bagi masyarakat.
Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Redaksi








