Krisis Air Baku Mengintai, PAM Jaya Diminta Jangan Cuma Andalkan Satu Keran

- Jurnalis

Selasa, 22 September 2026 - 11:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mata Aktual News — Jakarta tak cukup hanya memastikan air mengalir ke rumah-rumah warga. Di tengah ancaman kemarau berkepanjangan dan perubahan kondisi hidrologis, ketahanan sumber air baku juga harus menjadi prioritas.

Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, mengingatkan PAM Jaya agar tidak hanya fokus mengejar perluasan jaringan pelayanan dan peningkatan kapasitas produksi. Menurutnya, kapasitas produksi tidak akan banyak berarti jika pasokan air baku di hulu justru tertekan.

“Tantangan PAM Jaya ke depan bukan hanya memastikan air mengalir sampai ke pelanggan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan sumber air bakunya tetap tersedia ketika Jakarta menghadapi kemarau yang panjang,” kata Agung dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Agung, persoalan air Jakarta harus dilihat dari hulu hingga hilir. Sebab, sumber air baku yang menopang sistem penyediaan air Jakarta berkaitan dengan wilayah yang lebih luas dari batas administratif DKI Jakarta.

Perubahan kondisi hidrologis di wilayah sumber air, kata dia, berpotensi memberikan tekanan terhadap ketersediaan air baku. Karena itu, Jakarta dinilai perlu membangun strategi yang tidak bergantung pada satu atau dua sumber air konvensional.

“Jakarta perlu memiliki portofolio sumber air. Air permukaan dan waduk tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan sumber alternatif seperti pemanfaatan air hujan, penggunaan kembali air terolah, dan dalam kondisi tertentu pengolahan air laut,” ujarnya.

Agung juga mendorong agar air hujan tidak hanya dipandang sebagai persoalan banjir. Sebagian air hujan, menurutnya, dapat ditahan, disimpan, diresapkan dan dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari strategi ketahanan air.

Sistem pemanenan air hujan dapat dikembangkan di berbagai fasilitas, mulai dari bangunan publik, sekolah, rumah susun, gedung perkantoran, kawasan komersial hingga permukiman.

“Air hujan jangan hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus segera dibuang ketika turun dalam jumlah besar. Sebagian dapat dikelola menjadi cadangan air, tentu dengan memperhatikan kualitas dan peruntukannya,” kata Agung.

Namun, ia menegaskan, air hujan tidak serta-merta dapat digunakan sebagai air minum. Diperlukan proses pengolahan dan pemenuhan standar kualitas sesuai dengan peruntukannya.

Air Bekas Jangan Langsung Jadi Limbah
Diversifikasi juga dapat dilakukan melalui penggunaan kembali air yang telah digunakan.

Air limbah yang telah melalui proses pengolahan sesuai persyaratan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan nonminum, seperti penyiraman tanaman, flushing toilet, pencucian area dan kebutuhan utilitas tertentu.

Menurut Agung, konsep tersebut relevan diterapkan di kawasan dengan konsumsi air tinggi, seperti hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, rumah sakit dan kawasan komersial.

“Pola pengelolaan air perlu mulai bergerak dari mengambil, menggunakan, lalu membuang menjadi sistem yang lebih sirkular. Air yang sudah digunakan dan masih dapat diolah seharusnya tidak langsung dianggap sebagai sumber daya yang selesai,” ujarnya.

Air Laut Bisa Jadi Cadangan, Tapi Mahal

Sebagai kota pesisir, Jakarta juga memiliki opsi desalinasi atau pengolahan air laut. Namun, Agung mengingatkan bahwa teknologi tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai solusi tunggal.

Kebutuhan energi, investasi, biaya operasional hingga pengelolaan brine atau konsentrat garam harus diperhitungkan secara matang.

“Desalinasi bisa menjadi salah satu pilihan dalam diversifikasi sumber air, tetapi tidak seharusnya dipandang sebagai solusi tunggal. Kelayakan teknis, ekonomi, energi, dan lingkungan harus dihitung secara matang,” katanya.

Agung juga meminta ukuran keberhasilan sistem penyediaan air Jakarta tidak berhenti pada cakupan layanan dan kapasitas produksi.

Menurut dia, perlu ada indikator ketahanan air yang mampu mengukur seberapa kuat sistem menghadapi gangguan pada sumber air baku.

“Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak pelanggan yang terlayani. Kita juga perlu bertanya, berapa lama sistem mampu bertahan jika salah satu sumber air baku mengalami gangguan, berapa besar cadangan yang tersedia, dan berapa banyak kebutuhan yang bisa dipenuhi dari sumber alternatif,” ujarnya.

Indikator lainnya, lanjut Agung, dapat mencakup tingkat kehilangan air dalam jaringan, volume air hujan yang berhasil dimanfaatkan, serta jumlah air terolah yang dapat digunakan kembali.

Dengan indikator tersebut, potensi gangguan diharapkan dapat diketahui lebih dini sebelum berkembang menjadi persoalan pelayanan kepada masyarakat.

Agung menegaskan, ketahanan air Jakarta bukan pekerjaan PAM Jaya seorang. Diperlukan kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta, pemerintah pusat, pemerintah daerah di wilayah sumber air dan berbagai pemangku kepentingan.

Pengguna air dalam skala besar juga perlu dilibatkan melalui kebijakan efisiensi serta penggunaan kembali air terolah.

“Ketahanan air bukan hanya urusan PAM Jaya. Ini merupakan agenda Jakarta yang membutuhkan kerja sama lintas wilayah dan lintas sektor,” tegasnya.

Ia pun mendorong Jakarta memiliki peta jalan ketahanan air jangka panjang yang mencakup diversifikasi sumber air baku, pengurangan kehilangan air, pemanfaatan air hujan, penggunaan kembali air terolah, pengembangan sumber alternatif serta skenario menghadapi kekeringan berkepanjangan.

Setiap program, kata Agung, perlu memiliki target dan indikator yang dapat dipantau publik.

“Jakarta memang tidak bisa mengatur kapan hujan turun atau berapa lama kemarau berlangsung. Tetapi Jakarta bisa menentukan bagaimana air yang tersedia dikelola dan seberapa siap sistem menghadapi perubahan,” katanya.

Agung mengingatkan, langkah antisipasi harus dilakukan sebelum tekanan terhadap sumber air berubah menjadi gangguan pelayanan.

“Jangan menunggu keran mengecil baru kita menyadari bahwa ketahanan air belum siap,” pungkasnya.

Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Redaksi

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengelolaan Perpustakaan HB Jassin Dapat Sorotan DPRD
Abnon Jangan Cuma Pajang Atribut Betawi, Dailami: Agama, Adab dan Adat Wajib Dijaga!
Kopdar SWI Jaya: Solidkan Barisan, Siapkan Program Gebrakan
Srikandi Care Dorong Perbaikan Gizi Ibu dan Anak di Tegal Alur
Dugaan Pungli di Eks JT 51 Bujana Tirta Disorot, Pedagang Sebut Ada Tarif Lapak dan Gerobak
Camellia Sampaikan Ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Ketum Garda Bangsa Tommy Kurniawan
Pelayanan Stasiun Jatinegara Disorot, Pelanggan Keluhkan Respons Petugas dan Sulitnya Akses Pengaduan
Jalin Sinergitas, Jurnalis dan Aktivis Sambangi Kantor Pusat PAM Jaya
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 12:28 WIB

Pengelolaan Perpustakaan HB Jassin Dapat Sorotan DPRD

Senin, 21 September 2026 - 17:54 WIB

Abnon Jangan Cuma Pajang Atribut Betawi, Dailami: Agama, Adab dan Adat Wajib Dijaga!

Minggu, 20 September 2026 - 12:30 WIB

Kopdar SWI Jaya: Solidkan Barisan, Siapkan Program Gebrakan

Kamis, 17 September 2026 - 17:58 WIB

Srikandi Care Dorong Perbaikan Gizi Ibu dan Anak di Tegal Alur

Kamis, 17 September 2026 - 17:07 WIB

Dugaan Pungli di Eks JT 51 Bujana Tirta Disorot, Pedagang Sebut Ada Tarif Lapak dan Gerobak

Berita Terbaru

Jakarta

Pengelolaan Perpustakaan HB Jassin Dapat Sorotan DPRD

Selasa, 22 Sep 2026 - 12:28 WIB

Verified by MonsterInsights