MAGETAN | Mata Aktual News — Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin menyusuri jalur pendakian Cemoro Sewu di Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, sebagai bagian dari kunjungannya selama tiga hari di wilayah tersebut. Jalur ini dikenal luas sebagai lintasan pendakian yang memiliki nilai sejarah, budaya, serta spiritual yang kuat.

Gunung Lawu merupakan salah satu kawasan pegunungan yang menyimpan jejak peradaban masa lalu. Di kawasan ini terdapat sejumlah situs bersejarah, seperti Petilasan Prabu Brawijaya V, Argo Dalem, hingga Warung Tertinggi yang berada di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Seluruh kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Magetan.

Dalam perjalanannya, Tatang Zaenudin menyaksikan tingginya antusiasme pendaki yang datang dari berbagai daerah. Para pendaki tampak menggunakan perlengkapan standar pendakian dan mematuhi aturan yang berlaku di jalur Cemoro Sewu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk memasuki kawasan pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, pengunjung dikenakan tarif resmi, yakni tiket pendakian sebesar Rp25.000, tiket camping Rp15.000, serta tiket wisata dan foto sebesar Rp10.000. Dari pintu masuk pendakian, seluruh pengunjung diwajibkan berjalan kaki dan tidak diperkenankan menggunakan kendaraan bermotor.
Jalur pendakian menuju puncak Gunung Lawu diperkirakan memerlukan waktu tempuh sekitar 4 hingga 5 jam, tergantung kondisi fisik pendaki dan cuaca. Perjalanan melewati beberapa pos pendakian, di antaranya Pos 1 dan Pos 2. Di Pos 1 tersedia warung sederhana yang menjual kopi dan minuman hangat sebagai tempat beristirahat pendaki.
Selain keindahan alam, Gunung Lawu juga dikenal dengan nuansa spiritual yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat sekitar. Sejumlah cerita lisan berkembang, termasuk kisah tentang kemunculan burung jalak hitam yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai simbol atau pertanda spiritual. Meski bersifat kepercayaan, cerita tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang melekat pada Gunung Lawu.
Pendakian ini juga menjadi bagian dari kegiatan dokumentasi yang bertujuan merekam nilai sejarah, budaya, dan spiritual Gunung Lawu dalam bentuk film dokumenter. Melalui kegiatan tersebut, Tatang Zaenudin berharap masyarakat dapat lebih mengenal dan menghargai warisan budaya yang ada, sekaligus tetap menjaga kelestarian alam.
Gunung Lawu tidak hanya menjadi destinasi pendakian alam, tetapi juga ruang kontemplasi yang merepresentasikan hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai leluhur.
Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk berkunjung secara bijak serta menghormati aturan dan tradisi yang berlaku di kawasan tersebut.
Reporter: Syahrudin Akbar
Editor: Ryan Rinaldi








