Manis Pahit Enriko di Balik Pena, Ada Suara Kebenaran yang di Bungkam

- Jurnalis

Jumat, 4 Juli 2025 - 00:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edisi: Cerpen | Enriko A Gultom
Editor: Merry WM

Mata Aktual News. Jakarta, dini hari. Kota masih belum sepenuhnya bangun. Tapi di sebuah kamar sempit berisi tumpukan kertas, kamera tua, dan laptop penuh coretan, Enriko menatap layar dengan mata sembab. Satu berita lagi harus tayang sebelum matahari muncul. Kopi dingin di sampingnya jadi saksi betapa hidup sebagai jurnalis bukan sekadar soal menulis—tapi bertahan.

Enriko baru memulai di dunia jurnalistik. Dengan semangat membara, ia melamar di “Mata Aktual News” Salah satu media yang sedang berkembang. Ia datang bukan dengan ijazah jurnalistik, melainkan tekad: “Saya ingin membela kebenaran.” Kalimat itulah yang membuat Pemimpin Redaksi saat itu, Ibu Merry, menatapnya lebih lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Oke, kita lihat seberapa kuat kamu menulis dalam badai,” ucapnya waktu itu.

Hari-hari awal terasa manis. Setiap liputan terasa seperti petualangan. Ia mewawancarai pedagang kaki lima yang digusur, memotret wajah-wajah kecewa buruh saat upah tak dibayar, hingga ikut menyusup ke ruang sidang kasus korupsi demi satu kutipan penting. Nama Enriko mulai dikenal. Artikel-artikelnya sering viral karena keberanian dan ketajaman tulisannya.

Tapi manis itu tak bertahan lama.

Ketika ia menulis tentang sebuah proyek mangkrak milik pejabat daerah, ancaman mulai datang. Awalnya hanya teror telepon. Lalu motornya dirusak. Hingga suatu malam, ia dikejar oleh dua pria bertopeng usai menghadiri diskusi pers. Polisi pun acuh, seolah diam adalah bagian dari sistem.

Enriko goyah. Ibunya sempat memintanya berhenti. “Nak, apa hidupmu seharga berita?” Tapi Enriko hanya tersenyum, walau hatinya gemetar.

“Bu, kalau semua diam, siapa yang bersuara?”

Pahitnya hidup jurnalis juga muncul dalam bentuk lain—gaji yang terlambat, rekan yang saling sikut demi naik posisi, hingga tekanan redaksi yang terkadang tunduk pada iklan. Ia pernah diminta “melembutkan” berita tentang perusahaan besar yang menjadi sponsor. Ia menolak. Akibatnya, bonus akhir tahun dicoret. Tapi hatinya lega—integritas tak ternilai.

Namun di balik semua pahit, Enriko menemukan kemanisan yang lebih dalam. Ketika seorang ibu menangis dan memeluknya karena berita Enriko membantu anaknya mendapat pengobatan gratis. Ketika seorang pejabat mundur setelah skandal yang ia ungkap. Ketika mahasiswa datang padanya dan berkata,

“Mas Enriko, tulisanmu yang membuat saya ingin jadi jurnalis.”

Malam itu, saat berita terakhirnya tentang anak-anak korban banjir tayang, Enriko menutup laptop. Ia menatap jendela yang mulai membiru oleh cahaya pagi. Rasa lelah di tubuhnya tak hilang, tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang hangat.

Bukan kopi. Bukan pujian. Tapi keyakinan bahwa ia ada di jalan yang benar.

Di dunia yang sering kali dibungkam uang dan kekuasaan, menjadi jurnalis bukan hanya profesi—tapi perjuangan. Dan Enriko, dengan segala manis pahitnya, tetap menulis. Karena ia percaya, sekuat apapun kebohongan, kebenaran tetap layak diperjuangkan.

Follow WhatsApp Channel mataaktualnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tebet Eco Park Tetap Jadi Favorit, Masuk Gratis dan Jadi Pilihan Warga Jakarta hingga Depok
Semarak Kemerdekaan RW 07 CBS, Warga Kompak Rayakan HUT RI dan Didorong Peduli Lingkungan
Ulama, Umara, dan Masyarakat Jatinegara Bersatu dalam Bingkai “5 Abad Jakarta”
Rapat Pleno SWI Jaya Mantapkan Konsolidasi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Independensi Pers
BNN di Jamnas XII: Teman Harus Melindungi, Bukan Merasuki
Diplomasi Budaya Nusantara Menembus Dunia, BMDN Perkuat Jembatan Budaya Indonesia Suriah
Bus Antar-Jemput Gratis untuk Pelajar Disabilitas DKI Masuk 10 Besar Jakarta Innovation Award
JMI Desak DPRD Bongkar Tata Kelola Ancol, Manajemen Diminta Dievaluasi
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Tebet Eco Park Tetap Jadi Favorit, Masuk Gratis dan Jadi Pilihan Warga Jakarta hingga Depok

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:35 WIB

Semarak Kemerdekaan RW 07 CBS, Warga Kompak Rayakan HUT RI dan Didorong Peduli Lingkungan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:59 WIB

Ulama, Umara, dan Masyarakat Jatinegara Bersatu dalam Bingkai “5 Abad Jakarta”

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:04 WIB

BNN di Jamnas XII: Teman Harus Melindungi, Bukan Merasuki

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:48 WIB

Diplomasi Budaya Nusantara Menembus Dunia, BMDN Perkuat Jembatan Budaya Indonesia Suriah

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights