Jakarta, Mata Aktual News – Kehadiran Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Ahmad Dofiri di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (17/9/2025) menarik perhatian publik. Mantan Wakapolri tersebut diketahui dipanggil Presiden Prabowo Subianto di tengah isu reshuffle kabinet yang belakangan semakin menguat.
Ahmad Dofiri bukanlah sosok baru di jajaran kepolisian maupun pemerintahan. Pria kelahiran Indramayu, 4 Juni 1967 ini meniti karier panjang di Kepolisian Republik Indonesia sejak lulus Akademi Kepolisian (Akpol) pada 1989 sebagai lulusan terbaik dan penerima Adhi Makayasa. Putra pasangan Rapingi dan Masriah itu kemudian melanjutkan pendidikan di PTIK (1996) dan meraih gelar pascasarjana di Universitas Indonesia pada tahun 2000.
Selama lebih dari tiga dekade, Ahmad Dofiri dipercaya menempati sejumlah jabatan strategis. Ia pernah menjabat Kapolres Bandung, Kapolda Banten, Kapolda Yogyakarta, Kapolda Jawa Barat, hingga Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri. Kariernya terus menanjak dengan menduduki posisi Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri pada 2023–2024, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) pada November 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah resmi pensiun pada 30 Juni 2025, Presiden Prabowo menunjuk Ahmad Dofiri sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Keamanan, Ketertiban Masyarakat, dan Reformasi Kepolisian. Penunjukan tersebut menegaskan kepercayaan negara terhadap rekam jejak dan integritasnya.
Kedatangan Dofiri ke Istana kali ini menimbulkan pertanyaan publik. Apakah ia hanya menjalankan tugas sebagai penasihat khusus, atau ada penugasan baru yang lebih strategis dalam pemerintahan?
Dengan pengalaman panjang, rekam jejak bersih, serta pemahaman mendalam terkait isu keamanan nasional, Ahmad Dofiri dinilai memiliki potensi besar untuk kembali memegang peran penting dalam membantu Presiden menjaga stabilitas negara di tengah tantangan geopolitik dan dinamika dalam negeri.







