
Jakarta, Mata Aktual News – Ketua KPW Rekan Indonesia DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan atau akrab disapa Tian, menanggapi pernyataan anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Desie Christyana Sari, terkait penambahan tenaga medis Puskesmas untuk merespons aduan warga.
Menurut Tian, usulan tersebut menunjukkan ketidakpahaman terhadap alur kegawatdaruratan medis di Jakarta.
“Kalau benar-benar darurat, jalur yang harus ditempuh adalah AGD (Ambulans Gawat Darurat 118/112) atau PSC 119, bukan Puskesmas. Sistem ini sudah ada dan memang didesain untuk itu,” ujar Tian saat ditemui wartawan, Jumat (26/9/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, Puskesmas memiliki fungsi utama sebagai layanan kesehatan primer, mulai dari pemeriksaan rutin, imunisasi, pengendalian penyakit, hingga rawat jalan. Jika dokter jaga dipaksa merespons panggilan darurat di luar, dikhawatirkan akan mengganggu pelayanan bagi pasien yang datang langsung.
“Kalau dokter jaga ke rumah warga, lalu ada pasien gawat datang ke Puskesmas, siapa yang melayani? Masa satpam Puskesmas? Itu jelas berbahaya,” tegas Tian.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, saat ini AGD mengoperasikan 65 unit ambulans dengan dukungan 9 dokter jaga, 581 perawat, 75 operator komunikasi, dan 31 pengemudi. Sementara studi independen mencatat rata-rata waktu respons ambulans PSC 119 masih berkisar 21–30 menit, yang menjadi tantangan di wilayah padat penduduk seperti Jakarta.
“Artinya, yang harus diperkuat adalah armada dan sistem AGD/PSC, bukan memindahkan beban ke Puskesmas,” tambah Tian.
Tiga Rekomendasi Rekan Indonesia
Rekan Indonesia DKI Jakarta mengusulkan tiga langkah konkret untuk memperbaiki layanan darurat medis di ibu kota, yaitu:
- Menambah armada dan tenaga AGD/PSC sesuai kebutuhan wilayah.
- Mengintensifkan edukasi publik agar masyarakat tahu nomor darurat resmi, bukan menghubungi Puskesmas.
- Memperbaiki sistem call center terintegrasi agar aduan warga dapat ditangani lebih cepat.
“Legislator seharusnya mendorong penguatan sistem yang sudah ada. Usulan menambah tenaga medis Puskesmas untuk jemput bola itu solusi instan, keliru, dan kontraproduktif,” pungkas Tian.







